Ribuan Ekor Babi Mati di NTT, Australia Bantu Alat Deteksi Virus ASF Senilai Rp 1,4 Miliar

Pemerintah Australia menyerahkan alat deteksi virus penyakit Demam Babi Afrika (ASF). FOTO:HUMAS Pemprov NTT
Pemerintah Australia menyerahkan alat deteksi virus penyakit Demam Babi Afrika (ASF). FOTO:HUMAS Pemprov NTT

SPIRITNTT.COM, KUPANG – Demam Babi  Afrika (ASF) membunuh ribuan babi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak tahun 2020 lalu.

Kondisi ini menyebabkan, babi di Provinsi NTT mengalami penurunan yang cukup drastis. Padahal Provinsi NTT dikenal sebagai provinsi dengan populasi babi terbesar di Indonesia.

Saat ini ASF kembali menyerang babi di NTT. Sudah ratusan ekor babi mati diserang virus yang hingga saat ini belum ada obat atau vaksinya.

Guna mendukung pemulihan sektor peternakan babi di Provinsi NTT, Pemerintah Australia menyerahkan alat deteksi virus penyakit Demam Babi Afrika (ASF) kepada Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi, di Kantor Gubernur NTT, Kupang, Selasa (7/2/2023).

Dalam rilis yang diterima dari PRISMA, Alat dengan harga Rp 1,4 miliar tersebut terdiri dari, alat diagnostik Loop Mediated Isothermal Amplification (LAMP), dan reagen terkait yang dikirimkan sebagai bagian dari paket dapat mendeteksi virus ASF pada babi.

Alat ini diharapkan dapat mendukung Pemerintah NTT dalam upaya pemulihan sektor babi di Provinsi NTT mengingat diagnosis dapat dilakukan lebih cepat, sehingga tindakan pengendalian dapat segera dilakukan.

Menurut catatan PRISMA, pada tahun 2020, penularan cepat virus ASF di NTT mengakibatkan kematian lebih dari 500.000 ekor babi dan kerugian ekonomi yang sangat besar bagi peternak dan rumah tangganya.

Selain penyerahan LAMP, Pemerintah Australia melalui Program Australia Indonesia Partnership for Promoting Rural Incomes through Support for Markets in Agriculture (PRISMA) dan Program Kemitraan Australia Indonesia untuk Ketahanan Kesehatan (AIHSP) juga akan melakukan kegiatan peningkatan kapasitas (Bimbingan Teknis), Lokakarya, dan Training of Trainers (ToT) dengan sasaran petugas lapangan veteriner dan teknisi laboratorium.

Selain membantu produsen ternak, dampak dari penggunaan LAMP juga diharapkan dapat memberikan dorongan ekonomi bagi pelaku pasar yang terlibat dalam perdagangan ternak dan produk turunannya.

“Penanganan ASF di NTT membutuhkan kerja sama multi pihak. Pemerintah Australia menyadari bahwa ASF membawa kerugian besar bagi NTT baik secara ekonomi maupun budaya,” ujar John Leigh, Direktur Program AIHSP.

Dikatakan, dengan menyerahkan alat deteksi virus ASF (LAMP) sekaligus membangun kapasitas petugas lapangan dan teknisi laboratorium kami mendukung Pemerintah NTT dalam memulihkan sektor peternakan babi secara cepat.

“Kami sangat bahagia petani skala kecil dan pengusaha yang terlibat di sektor babi akan mendapatkan akses terhadap fasilistas pengujian penyakit hewan yang tersedia di Pulau Sumba, Flores dan Timor. Hal ini akan membuat ternaknya petani aman dan pendapatannya terlindungi, selagi sektor babi ini pulih dari Virus Demam Babi Afrika” kata Nina FitzSimons, CEO, PRISMA.

Hadir dalam penyerahan tersebut Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, Lulu Wardhani dari Kedutaan Australia), Johanna Lisapaly (Kepala Dinas Peternakan-NTT), Nina FitzSimons (Chief Executive Officer-PRISMA), John Leigh (Direktur Program-AIHSP), dan Alfonsus Theodorus (Kepala Badan Penelitian, Perencanaan, dan Pengembangan Daerah-NTT) beserta pejabat lainnya. (spiritntt.com)

Tinggalkan Balasan