Guru Siksa Rendam Tangan Siswa di Air Panas, Jari Fendy Melepuh dan Bengkak

SPIRITNTT.COM/HO-Shutterstock/kazoka Ilustrasi air mendidih
SPIRITNTT.COM/HO-Shutterstock/kazoka Ilustrasi air mendidih

SPIRITNTT.COM, KUPANG – Dulu, anak-anak sekolah di Pulau Flores wajib tinggal di asrama yang disiapkan sekolah atau warga dengan berbagai aturan yang cukup ketat.

Pembangunan asrama untuk siswa/I ini awalnya dilakukan misionaris Katolik dari luar negeri ketika menjalankan misi di Nusa Bunga.

Asrama pria dijaga guru pria atau bruder. Sementara asrama wanita dijaga guru wanita dan  suster. 

Hingga saat ini masih kita temui adanya asrama yang dikelola Pastor, Bruder atau Suster di wilayah Pulau Flores. Walaupun juga ada siswa-siswa yang tidak lagi tinggal di asrama.

Aturan yang ditetapkan di dalam asrama terbilang cukup ketat. Semuanya diatur seperti jam makan, belajar, rekreasi hingga jam keluar asrama.

Aturan yang ketat itu juga diikuti sanksi tegas jika ada yang melanggar. Biasanya sanksinya seperti membersihkan kamar mandi, atau tidak boleh keluar asrama dalam waktu tertentu jika ribut di asrama.

Namun yang terjadi di Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sungguh memrihatinkan. Betapa tidak, seorang guru di STM Bina Karya Larantuka, Flores Timur tega menyiksa anak asramanya dengan merendam tangan dalam air panas. Akibatnya, jemari anak yang diketahui bernama Fendi tersebut melepuh.

Tindakan itu dilakukan karena ada rekan asrama yang mengaku lemarinya dicongkel orang tak diketahui. Oleh karena mencurigai beberapa orang, Bruder menyuruh anak-anak tersebut merendam tangan di air panas.

“Kalau benar kalian tidak mencuri, celup tangan kalian ke air panas pun tidak akan terasa sakit,” ujar guru N yang juga seorang Bruder seperti disampaikan Emang Lagadoni yang adalah keluarga Fendi,  Jumat (4/8/2023).

Anak-anak tersebut patuh dengan perintah Bruder tersebut. Fendy asal Desa Pandai, Kecamatan Wotan Ulumado, Pulau Adonara pun mencelupkan tangannya dan naas, jarinya langsung melepuh dan membengkak.

Dalam kondisi tersebut, Bruder tidak membawanya ke dokter. Sehingga selama semalaman Fendy meringis dan menangis kesakitan hingga pagi hari.

Keluarga Fendi tidak terima dan membawa dan melaporkan kasus ini ke Polres Flores Timur (Flotim) untuk ditindaklanjuti melalui jalur hukum.

Bruder N, Sabtu (5/8) mengaku dirinya baru pertama menerapkan pembinaan dengan cara itu lantaran sering terjadi pencurian dalam lingkungan asrama.

Menurut Bruder N, suhu air di dalam ember itu bukan air mendidih karena ada jedah sekitar 20 menit  setelah air tersebut dijerang dengan kompor.

“Ada 17 siswa yang celup, dan Fendi menjadi orang kedua. Pas saya cek, anak lain aman, tapi hanya dia yang luka,” ungkapnya.

Bruder N meminta maaf kepada siswa dan keluarga besarnya atas apa yang sudah ia buat. Ia juga siap menghadapi konsekuensi hukum yang ditempuh keluarga korban.(spiritntt.com)

Tinggalkan Balasan