Warga Besipae Menangis Histeris, Pemprov NTT Robohkan Rumah Mereka

Rumah-rumah yang telah digusur Pemprov NTT. FOTO : Istimewa
Rumah-rumah yang telah digusur Pemprov NTT. FOTO : Istimewa

SPIRITNTT.COM, KUPANG –  Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT merobohkan tujuh unit rumah warga Pubabu, Besipae, di Desa Linamnutu, Kecamatan Amanuban Tengah Kabupaten TTS, Kamis (21/10/2022). Padahal rumah-rumah tersebut dibangun Pemprov NTT tahun 2020 lalu.

Sementara proses penggusuran berlangsung, hujan deras mengguyur wilayah Besipae. Warga yang sudah kehilangan rumah akhirnya mencari tempat berteduh di rumah-rumah yang sudah digusur dan rumah lainnya yang masih berdiri.

Masyarakat menangis histeris melihat anak-anak mereka terpaksa berteduh di bawah reruntuhan rumah yang sudah digusur.

Informasi yang dikumpulkan spiritntt.com, Pemprov NTT akan kembali melanjutkan penggusuran pada Jumat (21/10/2022) hari ini.

“Kami membongkar kembali rumah-rumah yang dibangun pemerintah dan rumah masyarakat yang ada di kawasan milik pemerintah karena itu kami nilai pembangunan liar dan illegal,” sebut Kepala Badan Pendapatan dan Aset Daerah NTT, Alex Lumba di Kupang, Jumat (21/10/2022).

Seperti diketahui, rumah-rumah tersebut berdinding bebak dengan ukuran sekitar 5 × 7 Meter yang sebelumnya dibangun Pemprov NTT pada tahun 2020. Proses pembongkaran rumah warga dilakukan anggota Satpol Provinsi NTT. Tampak anggota kepolisian Polres TTS dan Brimob Polda NTT melakukan pengaman di lokasi.

Penggusuran ini sempat dihalangi oleh warga setempat. Namun Pemprov NTT melalui Badan Pendapatan dan Aset Daerah bersama Sat Pol PP Provinsi NTT yang dikawal ketat aparat keamanan tetap melakukan penggusuran. Sehingga pada hari pertama Pemprov berhasil menggusur tujuh rumah warga.

Daud Selan salah seorang warga Besipae mempersilakan Pemprov NTT untuk melakukan penggusuran. Walau demikian, masyarakat Besipae akan tetap tinggal di kawasan tersebut. Sebab, hingga saat ini Pemprov tidak bisa membuktikan kepemilikan lahan di Besipae.

“Sesuai bukti yang dipegang masyarakat Besipae, sertifikat yang diterbitkan Dinas Peternakan Provinsi NTT tumpang tindih dengan sertifikat milik kehutanan,” tandasnya seperti dikutip Pos Kupang.com.

aWarga menyaksikan rumah-rumah yang telah digusur Pemprov NTT. FOTO : Istimewa

Niko Manao warga Besipae yang lain mengatakan, mereka ingin Pemprov NTT menunjukan batas lahan yang dimiliki Dinas Peternakan Provinsi NTT.

“Jika Pemprov NTT tunjukan batas lahan yang dimiliki, maka tanpa digusur ataupun diusir keluar dari lokasi Besipae, kami akan keluar dari kawasan ini,” imbuhnya.

Kendati rumah telah dihancurkan, Niko mengungkapkan warga Besipae tidak akan keluar dari kawasan Besipae. Dia menyebut, mereka siap tinggal di bawah pohon untuk mempertahankan tanah tersebut.

“Silahkan pak mereka hancurkan rumah kami. Tapi pak mereka tidak bisa cungkil dan bawa tanah kami. Kami akan tetap di sini. Tidak masalah biarpun kami harus tinggal di bawah pohon,” tegas Niko Manao.

Ester Selan, warga Besipae lainnya menandaskan aksi penggusuran yang dilakukan Pemprov NTT tidak akan menyelesaikan persoalan Besipae.  Dia menyampaikan, mereka tidak akan keluar dari Besipae.

Ester merasa lucu dengan Pemprov NTT karena Pemprov yang membangun rumah, lalu Pemprov juga meruntuhkannya sendiri.

“Saya rasa lucu dengan Pemprov NTT ini, mereka bangun rumah kasih kami habis, sekarang mereka datang kasih rubuh sendiri. Kami tidak rasa rugi, silakan rubuhkan rumah ini, kami tinggal di bawah pohon tidak ada masalah,” teriaknya. (spiritntt.com)

Tinggalkan Balasan