Wanita NTT Asal Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) Terpilih Jadi Wakil Wali Kota Darwin Australia

Wanita NTT asal Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Amye Un terpilih jadi Wakil Wali Kota Darwin Australia saat berpose bersama Wali Kota Darwin terpilih Kon Vatskalis, usai pelantikan Alderman oleh CEO Darwin City Council Scott Water, di gedung City Council, Senin (20/9/2021)-DOK/AMYE UN
Wanita NTT asal Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Amye Un terpilih jadi Wakil Wali Kota Darwin Australia saat berpose bersama Wali Kota Darwin terpilih Kon Vatskalis, usai pelantikan Alderman oleh CEO Darwin City Council Scott Water, di gedung City Council, Senin (20/9/2021)-DOK/AMYE UN

SPIRITNTT.COM, KUPANG – Amye Un, wanita kelahiran Amanatun, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT) berhasil menduduki posisi sebagai Wakil Wali Kota Darwin, Australia.

Tidak hanya itu, Amye Un yang sudah menjabat Wakil Wali Kota Darwin, Australia selama 10 bulan ini, juga memegang jabatan sebagai Alderman atau dewan penata Kota Darwin, Northern Territory.

Posisi yang diraih Amye Un, Wanita Amanatun, TTS ini memang diluar dugaan. Betapa tidak, saat kampanye lalu, Wanita kebanggaan NTT yang sudah lama bermukim di Darwin Australia ini hanya mengeluarkan modal kecil dibanding kompetitor lain.

“Dengan dana kampanye paling limit hanya $3.500 AU (setara Rp 36 juta), saya bisa menang di dua posisi dalam satu pemilihan yaitu Wakil Wali Kota dan Penata Kota (Councillor) Darwin,” ujar Amye, kepada Kompas.com, Selasa (5/7/2022).

Dari uang sebesar $3.500 AU tersebut, Amye memerinci untuk biaya registrasi sebagai calon wali kota dan penata kota biaya sebesar 500 dolar Australia atau setara Rp 5 juta. Jika menang dalam pemilihan, uang pendaftaran itu akan dikembalikan.

Amye kemudian menggunakan 1.200 dolar Australia atau setara Rp 12,3 juta untuk mencetak 10.000 surat suara. Selanjutnya, 450 dolar Australia atau setara Rp 4,6 juta untuk membuat 25 lembar baliho yang dipasang di jalan.

Sebanyak 400 dolar Australia atau setara Rp 4 juta dipakai untuk membeli kaos atribut kampanye.

“Sedangkan sisa uang lainnya saya pakai untuk membeli bahan bakar minyak buat operasional,” kata Amye.

“Tetapi saya bangga, bisa kalahkan empat kandidat lainnya semuanya adalah orang kulit putih,” sambungnya.

Menurut Amye, dengan biaya yang kecil, dia orang pertama yang mencatat sejarah itu. Karena, dalam setiap pemilihan politik di negara itu, para calon menghabiskan uang hingga jutaan dolar atau miliaran rupiah.

“Itu modal paling kecil dalam dunia politik di Darwin,” kata Amye.

Amye mengaku, banyak saingannya yang heran dengan dana kampanyenya yang minim. Apalagi, dirinya maju melalui jalur independen, tentu tidak mendapat dukungan dari pemerintah, sehingga hanya mengandalkan usaha sendiri.

“Maju melalui jalur independen harus sendiri usaha. Susah juga, tetapi saya punya tekad yang keras harus menang dan terbukti saya meraih kemenangan itu,” jelasnya.

Rupanya, kata Amye, yang membuatnya terpilih karena disukai warga kalangan menengah ke bawah karena dirinya memang kerap terlibat aktif dalam kegiatan sosial masyarakat di ‘Negeri Kanguru’ tersebut.

Selain itu, Amye bersama sejumlah warga Darwin beberapa kali menggelar unjuk rasa di kantor pemerintah setempat.

Amye juga sering membantu masyarakat yang tidak memiliki rumah, dengan memberikan mereka makanan. Meski telah terpilih, Amye tetap masih menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat setempat.

Selain telah dilantik menduduki dua jabatan itu, Amye dilantik menjadi warga negara Australia yang baru (Newest Australian Citizenship) pada Jumat (1/7/2022).

Amye berharap, ke depan dirinya bisa terpilih menjadi Wali Kota Darwin.

Sebelumnya diberitakan, Amye Un (60), perempuan asal Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), maju dalam pencalonan Wali Kota Darwin Northern Territory, Australia.

“Kami ada enam calon yang akan bertarung dalam pemilihan Wali Kota Darwin, dan saya satu-satunya yang maju melalui jalur independen,” kata Amye.

Amye Un,  Wanita Amanatun, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), NTT saat kampanye di sejumlah wilayah di Darwin, Australia-DOK Amye Un

Perempuan lulusan salah satu SMK di Kota Kupang itu mengaku sudah menjadi warga negara Australia sejak 1998, setelah menikahi pria asal Australia.

Menurut Amye, dia maju sebagai calon wali kota, setelah mendapat dukungan dari masyarakat setempat, khususnya kalangan ekonomi menengah ke bawah.

Selain mendapat dukungan yang banyak dari arus bawah, Amye menyebut hal itu sebagai kesempatan. Apalagi di wilayah itu kata dia, sangat menjunjung tinggi demokrasi.

Dia memilih jalur independen, karena tidak ingin terikat dengan partai politik manapun.

“Kalau di partai kita tidak bisa menyampaikan aspirasi masyarakat dengan baik. Protes dari masyarakat, kalau melalui partai politik, tidak seluruhnya disampaikan ke Parlemen. Kalau independen kita bisa sampaikan apa saja yang diinginkan rakyat,” kata Amye. (timspiritntt.com)

Tinggalkan Balasan