Mengenang Ketegasan Ben Mboi Tolak Intervensi Jenderal TNI dalam Pemilihan Bupati Sumba Barat

Buku Ben Mboi: Memoar Seorang Dokter, Prajurit, Pamong Praja
Buku Ben Mboi: Memoar Seorang Dokter, Prajurit, Pamong Praja

SPIRITNTT.COM, KUPANG-Ben Mboi, Gubernur NTT periode 1978-1988 pernah menolak permintaan Jenderal TNI Angkatan Udara (AU) dan Angkatan Darat (AD) dalam pemilihan Bupati Sumba Barat menggantikan Letkol Udara Dominggus  Pandango, S.H yang telah memimpin Kabupaten Sumba Barat dari 1 September 1978-13 Desember 1984.

Kala itu Ben Mboi sebagai Gubernur NTT dihubungi Kepala Staf Angkatan Udara, Marsekal Ashadi Tjahyadi, terkait pengganti Bupati Sumba Barat, Letkol (TNI AU) Pandago yang meninggal. 

Ashadi meminta pengganti Pandago berasal dari Angkatan Udara. Namun Gubernur Ben Mboi menolak. Ben Mboi lebih memilih seorang sipil yaitu Drs. Umbu Djima.

“Marsekal, jangan! Kita jangan bikin  NTT menjadi kapling-kapling ABRI, dan sekaligus tempat arisan bupati. Penetapan bupati di bawah pimpinan saya adalah mission type oriented, artinya rakyat membutuhkan leadership macam apa,” jelas Ben Mboi kepada Ashadi.

Pernyataan ini tertulis dalam buku Ben Mboi: Memoar Seorang Dokter, Prajurit, Pamong Praja yang dikutip Majalah Historia.id.

Ashadi menerima alasan Ben Mboi. Namun, tak lama kemudian, Kasospol Kodam Udayana, Kolonel Siregar menemui Ben Mboi di kantornya. 

Kasospol Kodam Udayana, Kolonel Siregar meminta agar bupati Sumba Barat diambil dari kalangan Angkatan Darat. Siregar beralasan Sumba Barat masih rawan PKI dan Gerakan 30 September (G30S), maka pimpinan harus dipegang tentara.

Namun dalam pertemuan dengan Kolonel Siregar tersebut Gubernur Ben Mboi menolak alasan Siregar.

“Ah kamu bercanda, rawan G30S, yang benar saja. Tulang-tulang orang PKI sudah hancur semua, you masih bilang rawan G30S. Tidak ada  rawan G30S. Tidak ada laporan sospol bahwa masih ada unsur PKI di Sumba Barat. Yang ada rawan kelaparan, kemiskinan. Saya ada calon bupati dari kalangan sipil Sumba Barat,” jawab Ben Mboi.

Namun Siregar tak hilang akal setelah mendengar penolakan yangndisampaikan Ben Mboi. Siregar mengeluarkan ancaman kepada Ben Mboi.

“Tapi panglima (Udayana) pesan, kalau bupati Sumba Barat bukan dari kalangan AD, besok lusa kalau ada masalah di sana panglima tidak bertanggung jawab,” kata Siregar.

Ternyata Ben Mboi tak takut dengan ancaman tersebut. Bahkan Ben Mboi mengeluarkan ancaman balik kepada Kasospol Kodam Udayana Kolonel Siregar.

Ben Mboi memanggil Sekretaris Daerah saat itu, Drs. S. Daud ke ruangannya. Ben Mboi memerintahkan Sekda S. Daud untuk mencatat kata-kata ancaman Siregar lalu mengirimkannya via telegram kepada Presiden Soeharto.

Mendengar perintah Ben Mboi tersebut, Kolonel Siregar melompat dari tempat duduknya.

“Minta ampun, Pak Gubernur. Bukan itu maksudnya.”

“Eh, Siregar, kau tentara. Kau lupa saya juga tentara. Yang kau bilang besok lusa kalau ada masalah itu, kau yang akan bikin masalah, sehingga hipotesismu terbukti!” tegas Ben Mboi.

“Jadi beritahu panglima, prinsip saya mencari pemimpin rakyat itu adalah orang yang sedekat mungkin secara sosial, politik, kultural kepada rakyat yang dipimpin itu,” tegas Ben Mboi.

Ben Mboi kemudian memilih Drs. Umbu Djima sebagai bupati Sumba Barat yang menjabat selama dua periode (1985-1995). Setelah itu, Umbu Djima menjadi anggota DPR RI dari Partai Golkar (1997-1999).

Drs. Umbu Djima-fokusnusatenggara

Dalam buku itu juga dijelaskan, apakah Panglima Udayana gembira atau tidak? Bagi Mboi “rakyat harus memperoleh pemimpin seperti kata Joseph de Maistre: Toute nation a le gouvernement qu’elle merite (setiap bangsa/kelompok masyarakat berhak mempunyai pemerintah yang pantas untuk mereka.”

Dalam memoir itu juga diungkapkan, Ben Mboi adalah satu-satunya dokter AD sekaligus combatant dan airborne yang diterjunkan di Irian Barat tahun 1962 dalam Operasi Naga. Bahkan hingga kini dia satu-satunya dokter yang ikut perang dalam sejarah TNI. Bersama istrinya, Nafsiah Mboi, dia menerima Penghargaan Ramon Magsasay pada 1986.

Ketika film Human Face of Indonesia produksi ABC (1986), yang menampilkan kiprahnya sebagai Gubernur NTT ditayangkan di Australia, orang berkomentar, “if what Ben Mboi had achieved in NTT represents the Indonesian Army, the there is no militarism in Indonesia.”

Kolonel Dokter Poernomosidi, seorang adik kelas Ben Mboi di FKUI, menjuluki Ben Mboi Werkudoro: Tokoh yang kalau bicara ceplas-ceplos dan apa adanya. Maka tak heran di sepanjang memoar bertaburan kisah menarik yang ditulis dengan gaya blak-blakan.

Membaca memoar ini kita seperti membaca penggalan-penggalan sejarah Indonesia. Misalnya, ada kisah tentang “Holandia 1963: Misteri Macan Tutul dan Jos Soedarso”, “Achmad Jani, the General of Generals”, “Naluri Fund Raising Pak Harto”, “Nujum Kejatuhan Pak Harto”, serta kisah anak menteri menjadi backing pengusaha hingga masuk ke ranah kebijakan.

Namun tanpa ragu pula Ben Mboi menceritakan kegagalan yang dialaminya, dan memberikan refleksi atas beberapa penggalan hidupnya terhadap situasi sekarang. Persis pada titik inilah dia memberikan pengertian baru tentang fungsi sebuah memoar.

Dengan mengajukan empat pertanyaan yang diilhami pidato John F Kennedy pada 1961, Ben Mboi menantang kita untuk menjadi Hakim Sejarah: Was Ben Mboi truly a man of courage? Was Ben Mboi truly a man of judgment? Was Ben Mboi truly a man of integrity? Was Ben Mboi truly a /man of dedication?(timspiritntt.com)

Tinggalkan Balasan