Bisnis  

FABA Ternyata dapat Menyuburkan Tanah

SPIRITNTT-JAKARTA –  Akademisi ahli lingkungan, Prof Dr Ir H Fachrurrozie Sjarkowie MSc mengungkapkan FABA (Fly Ash Bottom Ash/limbah padat dari hasil pembakaran batubara) bermanfaat untuk menyuburkan tanah dan bahkan bisa menetralkan tanah gambut. 

Itu disampaikan Prof Fachrurrozie dalam Webinar “Mengoptimalkan Manfaat FABA untuk Pembangunan Ekonomi”  yang diselenggarakan PWI Pusat, PWI DKI Jakarta bersama Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI), Jumat (9/4/2021) secara virtual dan offline. 

Tetapi pada sisi lain, Prof Fachrurrozie juga mengingatkan agar ada penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan penggunaan FABA terhadap tanah dan tanaman untuk menghindari dampak negatif di kemudian hari. Seperti kasus buah apel Malang yang kecil-kecil saat ini karena dampak buruk pemakaian pupuk non-organik pada masa lalu. 

Pada Webinar FABA yang dipandu Presenter TV One Brigitta Manohara, juga menampilkan narasumber lain, yakni Sri Andini yang menjabat Komisaris Utama PT. Bukit Pembangkit Inovative,  Dr.Eng Januarti Jaya Ekaputri, ST, MT dari peneliti/akademisi ITS Surabaya,  peneliti pemanfaatan FABA untuk infrastruktur dan Dr. Ir. Nani Hendiarti, M.S yang menjabat Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Lingkungan dan Kehutanan Kemenko Kemaritiman dan Investasi. 

Sebelumnya, Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Atal Sembiring Depari menyambaik baik gelaran webinar bertajuk “Mengoptimalkan Pemanfaatan FABA untuk Pembangunan Ekonomi”. 

“Kegiatan ini sangat penting mengingat FABA sekarang bukan lagi merupakan limbah tidak berguna, tetapi merupakan produk yang bermanfaat bagi pembangunan. untuk itu PWI menyambut baik penyelenggaraan event ini dan semoga bermanfaat bagi semua pihak yang terkait,” ungkap Ketum PWI Pusat dalam kata pengantarnya. 

Atal S Depari yang didampingi Ketua PWI Jaya Sayid Iskandarsyah, serta jajaran pengurus PWI Jaya, menjelaskan,  industri manufaktur berperan penting dalam implementasi konsep circular economy atau ekonomi berkelanjutan. 

“Selain akan menjadi tren dunia, konsep tersebut dinilai mempunyai kontribusi besar dalam penerapan pola produksi dan konsumsi berkelanjutan,” ujar Atal S. Depari. (Tim SpiritNTT)

Tinggalkan Balasan