Bisnis  

FABA Bisa Dipakai Industri Elektronik dan Pertahanan

SPIRITNTT-JAKARTA– Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutananan, Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Dr. Nani Hendiarti mengatakan, limbah fly ash bottom ash (FABA) kini sudah dihasilkan sebanyak 75 persen dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

“Pada 2018 ada sebanyak 9,14 juta ton limbah FABA yang dihasilkan dari penggunaan 91,4 juta ton batubara. Kemudian pada 2019 dihasilkan 97, juta ton FABA dari penggunaan 97 juta ton batubara,” ungkap Nani dalam webinar PWI Pusat, Jumat kemarin.

Maka, menurut Nani, besar sekalo potensi FABA Indonesia yang bisa dimanfaatkan untuk diolah kembali secara lebih optimal. Salah satunya untuk membantu konstruksi pembangunan.

“Pengeloaan bisnisa FABA dari PLTU Batubara dapat disinergikan dengan bisnis cofiring biomasa pada PLTU Batubara. Setidaknya alat angkutnya bisa dimanfaatkan untuk mengirim biomasa dari masyarakat dan membawa balik FABA dari PLTU Batubara untuk diolah lagi. Pemanfaatan FABA di 2021 harus lebih optimal untuk membantu pembangunan,” papar Nani.

Lebih lanjut Nani mengatakan sedikitnya kini sudah terdapat 20 negara yang telah memanfaatkan FABA sebagai limbah non B3. Ada berbagai upaya pemanfaatan FABA di negara-negara tersebut.

Antara lain pembangunan jalan raya sebagai material untuk semen, konkret, beton, pengisi struktur, bahan dasar jalan, agregat sintetik, hingga pengontrol salju dan es.

Kemudian pemanfaatan untuk reklamasi bekas tambang terbuka digunakan untuk remediasi dan kontrol penurunan muka tanah. Pada bidang pertanian juga digunakan untuk bahan pembenah tanah, pengeras halaman peternakan, juga untuk alas penyimpanan jerami.

“FABA juga bisa dimanfaatkan untuk industri elektronika, industri pertahanan serta untuk industri kendaraan hibrid,” tambah Nani.

Jika dikelola dengan baik, menurut data yang dipaparkan Nani, potensi ekonomi FABA bisa mencapai angka triliyunan pertahun.

Namun, ada beberapa hal yang dilarang pemerintah dilakukan para pengusaha PLTU penghasil FABA. Antara lain dilarang melakukan pembuangan (dumping) tanpa seizin pemerintah pusat, dilarang melakukan pembakaran secara terbuka (open burning), lalu dilarang melakukan pencampuran dengan limbah B3, dan terakhir dilarang menimbun di fasilitas tempat pembuangan akhir (TPA). (Tim SpiritNTT)

Tinggalkan Balasan