Bisnis  

Desa Wisata Kabupaten Kupang Yang Semakin Menggeliat

Dengan terbitnya UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa memimpikan kehidupan desa yang otonom dalam mengelola pemerintah dan kemasyarakatannya funa mengerahkan potensi ekonomi desa.

Berlakunya regulasi tentang desa membuka harapan bagi masyarakat desa untuk (minimal) berubah, karena hal tersebut akan menjadi momentum dalam mendorong lahirnya desa dengan tata kelola yang lebih akuntabel dan transparan, masyarakat desa yang partisipatif, dan perekonomian desa yang menghidupi.

Banyak faktor yang menjadi penyebab timbulnya masalah ekonomi masyarakat desa seperti tingginya angka pengangguran, minimnya sumber daya manusia, serta kurang kreatifnya masyarakat desa dalam mengolah sumber daya alam.

Salah satu tujuan dana desa adalah untuk memajukan perekonomian desa dengan memanfaatkan semua potensi desa dalam mengairahkan ekonomi masyarakat.

Pariwisata merupakan salah satu sektor unggulan yang terus digerakan Pemerintah Kabupaten Kupang dalam membangun sendi-sendir ekonomi masyarakat desa.

Melalui program 5P yang gencar dilakukan Pemerintah Kabupaten Kupang dalam kepempinan Bupati Korinus Masneno dan Wakil Bupati Kupang, Jerry Manafe menjadi pariwisata sebagai sektor unggulan.

“Kabupaten Kupang ini memiliki banyak potensi wisata sehingga pemerintah terus mengerakan semua desa yang memiliki potensi wisata untuk menjadi desa-desa wisata,” kata Bupati Kupang, Korinus Masneno.

Pariwisata tentu menjadi magnet bagi pembangunan ekonomi masyarakat dalam mengerakan ekonomi masyarakat pada kawasan pedesaan.

Bupati Korinus Masneno mengatakan, apabila pariwisata berkembang maka ekonomi masyarakat pada sekitar lokasi wisata juga ikut mengeliat.

Banyaknya potensi wisata yang beragam mampu menjadi sumber energi baru untuk masyarakat dalam pembangunan ekonomi, sehingga mendorong semua desa untuk mengembangkan potensi wisata.

Hal itulah yang memacu Pemerintah Desa Mata Air, Kecamatan Kupang Tengah membangun pariwisata Pantai Sulamanda sebagai sumber pendapatan baru bagi masyarakat desa yang selama ini hanya mengandalkan pertanian sebagai sumber pendapatan.

Menurut Kepala Desa Mata Air, Benyamin Kanuk, selama masa jabatannya dari tahun 2017, ia sudah menganggarkan dana desa untuk dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Desa Mata Air yang menjadi salah satu desa wisata di Kabupaten Kupang terus mengeliat ditengan gencarnya Pemerintah Kabupaten Kupang menjadikan pariwisata sebagai sektor unggulan melalui program 5P.

Benyamin Kanuk mengatakan dana desa yang diperoleh harus dikelola dengan memanfaatkan potensi-potensi yang ada di desa agar dapat meningkatkan ekonomi masyarakat Desa Mata Air.

“Saya keliling dari rumah ke rumah, berdialog dengan warga untuk menanyakan, kira-kira aset apa di Desa Mata Air yang dapat dikelola untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan bagi masyarakat desa (Mata Air),” ujarnya.

Dari hasil survei yang dilakukan, Benyamin menemukan cukup banyak sumber daya yang ada di Desa Mata Air yang perlu ditata dan dikelola, adalah sektor Pertanian dan Pariwisata. Sehingga dari situlah, dia kemudian membentuk BUMDes yang diberi nama “Ina Huk” untuk mengelola kedua objek tersebut.

Ina Huk, menurut penuturan bahasa Timor artinya satu ibu. Jadi, BUMDes Ina Huk yang telah dibentuk itu, diharapkan menjadi seorang ibu yang dapat menyusui kemudian mengayomi seluruh anak-anaknya di Desa Mata Air agar kelak tumbuh menjadi sejahtera.

Dalam tubuh BUMDes Ina Huk ini terdapat dua unit usaha yang menjadi fokus pengembangannya, yakni unit pertanian dan unit pariwisata.

Benyamin Kanuk mengaku bahwa dua unit usaha tersebut dipilih karena potensinya cukup menjanjikan bagi masyarakat Desa Mata Air.

“Unit sektor pertanian, kami akan bergerak di bidang penyediaan bibit, pupuk dan obat-obatan, serta penyediaan pakan ternak dan pakan ikan,” kata Benyamin.

Sedangkan, pada sektor pariwisata telah dikembangkan Pantai Sulamanda sebagai objek wisata andalan bagi perekonomian masyarakat Desa Mata Air di Kupang Tengah.

Pantai Sulamanda, kini telah menjadi “Ina Huk” bagi Desa Mata Air. Biaya penyertaan modal untuk mengelola pantai Sulamanda menjadi objek wisata andalan, tidaklah sedikit jumlahnya.

“Sejak 2017 sampai sekarang, sudah Rp200 juta kami kucurkan kepada BUMDes Ina Huk sebagai penyertaan modal agar bisa digunakan untuk pengembangan sektor pertanian maupun pariwisata,” katanya.

Dari biaya penyertaan modal tersebut, telah dibangun sejumlah fasilitas pendukung pariwisata di objek wisata Sulamanda, seperti gapura, lopo, tempat sampah, toilet, tempat spot foto, dan lapak jualan.

Ada sekitar 18 lapak yang dibangun di sepanjang kawasan obyek wisata pantai Sulamanda yang digunakan masyarakat Desa Mata Air untuk menjual hasil pertaniannya kepada para wisatawan.

“Ramainya pengunjung membuat hasil jualan kami menjadi laris manis,” kata Theresia, seorang warga setempat yang kemudian menambahkan bahwa pemasukan juga dari retribusi tiket masuk ke Pantai Sulamanda berdasarkan Perda Kabupaten Kupang, sertapenyewaan toilet umum.

Para remaja Desa Mata Air juga bisa menikmati pundi-pundi rupiah dari jasa pemotretan bagi para pengunjung yang ingin mengabadikan momentum sensual di ujung Sulamanda. (selvi)

Tinggalkan Balasan