Covid-19 Kembali Melonjak, Lansia Bakal Dapat Booster Kedua

Ilustrasi Vaksin Covid-19
Ilustrasi Vaksin Covid-19

SPIRITNTT.COM, JAKARTA – Kasus Covid-19 di Indonesia kembali melonjak menyusul terus merebaknya subvarian Omicron XBB dan BQ.1.

Oleh Karena itu, Kementerian Kesehatan RI mengumumkan pemberian vaksin Covid-19 booster kedua untuk masyarakat umum non-nakes, yakni pada kelompok lansia.

“Dengan mempertimbangkan tingginya risiko kasus berat Covid-19 pada lansia dan rekomendasi ITAGI, maka diperlukan vaksinasi booster Covid-19 kedua untuk lansia,” demikiann surat edaran yang diteken Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) dr Maxi Rein Rondonuwu, dikutip dari laman resmi Kemenkes RI, Rabu (23/11/2022).

Kementerian Kesehatan RI memberikan izin penggunaan vaksin COVID-19 booster kedua bagi lansia, Rabu (22/11/2022). Pemberian vaksin COVID-19 booster kedua lansia diberikan setelah enam bulan suntikan booster pertama.

Bukan tanpa alasan, prioritas pemberian vaksin COVID-19 booster kedua pada lansia lantaran angka kematian akibat subvarian baru Omicron XBB dan BQ.1 relatif tinggi. Dari keseluruhan total kasus kematian, sekitar lebih dari 50 persen didominasi usia lanjut.

Terkait vaksinasi booster kedua untuk masyarakat umum, Kepala Biro Komunikasi Kemenkes RI dr Siti Nadia Tarmizi menyebut belum ada kebijakan serupa untuk masyarakat umum.

Pasalnya, dari data kasus Covid-19 yang kembali meningkat, gejala pada pasien dewasa muda didominasi ringan. Artinya, kebanyakan pasien Covid-19 dewasa muda tidak memerlukan perawatan di RS maupun ICU.

“Iya belum ya. Sementara masih lansia, dari data yang ada, lansia paling rentan terhadap subvarian baru,” beber dr Nadia.

Belakangan, muncul pula dorongan vaksinasi Covid-19 teknologi bivalent untuk melawan sejumlah varian baru termasuk ‘anak’ dan ‘cucu’ Omicron.

Namun, mengikuti arahan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan SAGE, dr Nadia menyebut pemerintah belum ada penjajakan vaksin dengan jenis tersebut.

Epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Pandu Riono menyebut, proses vaksinasi Covid-19 perlu dilakukan bertahap.

Sebelum mencapai pemberian booster kedua atau dosis keempat, suntikan booster pertama atau dosis ketiga perlu digencarkan lebih dulu. Vaksinasi dosis keempat akan dimulai untuk masyarakat umum non-nakes, wajib dimulai dari kelompok rentan yakni lansia.

Pandu menyoroti, subvarian Omicron XBB dan BQ.1 kini mendominasi dengan proporsi sekitar 60 persen dari varian-varian Corona yang merebak.

Ada kemungkinan, sekarang pun Indonesia sudah berada pada puncak gelombang Covid-19 kali ini.

“Sekarang sudah ada di puncak. Sudah cukup tinggi. Sekarang di mana-mana sudah mulai landai,” ujar Pandu saat ditemui detikcom di Jakarta Selatan, Selasa (22/11).

“Mungkin lebih tinggi (kasus harian) juga nggak apa-apa karena ada varian baru. Setiap ada varian baru itu lebih mudah menular. Dia mencari korban selalu orang-orang yang lemah, tidak mau vaksinasi, tidak disiplin. Jadi terinfeksi tapi tidak mati, tidak bikin masuk rumah sakit,” imbuh Pandu.

Terakhir ia menyoroti, gelombang Covid-19 kali ini, orang-orang yang berisiko mengalami gejala fatal dan kematian sebagian besarnya dalam kondisi belum menerima suntikan vaksin Covid-19 booster.

“Saya percaya tingkat imunitas sekarang itu cukup baik. Tetapi tidak berlaku sama pada setiap orang. Sekarang saja ada kenaikan, banyak yang tertular. Tetapi yang menjadi korban adalah sebagian besar yang belum divaksinasi atau vaksinasinya belum lengkap. Kalau sudah dibooster, dari data nggak ada yang mati. Sedikit sekali,” pungkas Pandu. (spiritntt.com)

Tinggalkan Balasan