Bisnis  

BI Dukung FTZ di Perbatasan Indonesia-Timor Leste

KALABAHI, SPIRITNTT.COM- Bank Indonesia (BI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mendorong pembangunan kawasan perdagangan bebas atau free trade zona (FTZ) di wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste.


Pembangunan FTZ merupakan satu dari tiga aspek lain seperti pengembangan energi terbarukan dan pengembangan komoditas unggulan lewat hilirisasi.


“Ketiga aspek tersebut memperluas akses pasar lokal ke pasar eksport, ujar Ekonom Yunior BI Provinsi NTT, Ahmad Akhirul Fatoni dalam kegiatan Capacity Building Media 2026 yang diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT di Hotel Simfony, Kabupaten Alor, pada 15-17 Oktober 2026.


Kegiatan yang mengusung tema “Membangun Narasi Pariwisata NTT dengan Nilai Kedaerahan” tersebut turut membahas potensi dan tantangan pengembangan ekonomi daerah.

Untuk diketahui, saat ini Pemprov NTTgencar menjadikan wilayah perbatasan NTT – Timor Leste sebagai FTZ. Upaya tersebut untuk mendorong wilayah perbatasan NTT seperti lawasan Bintan di wilayah Kepulauan Riau.


Untuk diketahui, beberapa waktu lalu Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menilai persiapan FTZ harus ditempatkan dalam strategi ekonomi yang lebih luas. Juga mengarahkan pengembangan ekonomi NTT pada tiga orientasi pasar, yakni pasar internasional, pasar nasional, dan pasar domestik NTT.


Untuk pasar internasional, FTZ diarahkan menjadi pintu masuk NTT menuju pasar Timor-Leste dan Australia.


“Pada alasan internasional, kita harus mengoptimalkan betul rencana dan desain Free Trade Zone yang mau kita bikin di NTT ini dalam rangka mengisi pasar internasional melalui dan masuk di Timor-Leste dan Australia,” kata Melkiades beberapa waktu lalu di Kupang.


Ahmad menjelaskan, salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru yang dapat dikembangkan di NTT adalah pengolahan komoditas unggulan seperti rumput laut, kelapa, porang, garam, dan lainnya.


Namun tambah Ahmad, pengolahan komoditas tersebut masih terbatas dan sebagian besar hasilnya dikirim ke luar NTT dalam bentuk bahan mentah (raw material).


“Akibatnya, nilai tambah lebih besar justru berlangsung di daerah lain,” ujar Ahmad. ***

Tinggalkan Balasan