Bisnis  

Areal Budidaya Udang di Sumba Timur Jadi Kawasan Industri Terintegrasi

Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Sakti Wahyu Trenggono menerima Kunjungan Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat bersama rombongan di Gedung Mina Bahari I Ruang Rapat ZEE, Kementerian Kelautan dan Perikanan RI. FOTO:Humas Pemprov NTT
Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Sakti Wahyu Trenggono menerima Kunjungan Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat bersama rombongan di Gedung Mina Bahari I Ruang Rapat ZEE, Kementerian Kelautan dan Perikanan RI. FOTO:Humas Pemprov NTT

SPIRITNTT.COM, JAKARTA – Pemerintah pusat akan membangun kawasan budidaya udang terbesar di Desa Palakahembi, Kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur dengan investasi  sebesar Rp. 7,5 triliun.

Terkait rencana pembangunan kawasan terintegrasi tersebut, maka pada Rabu (15/03/2023), Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Sakti Wahyu Trenggono, menerima Kunjungan Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat bersama rombongan di Gedung Mina Bahari I Ruang Rapat ZEE, Kementerian Kelautan dan Perikanan RI.

Kedatangan Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat bersama rombongan dan juga melakukan pembahasan terkait pembangunan kawasan budidaya udang terintegrasi  (Integrated Shrimp Farming) tersebut.

 Menteri  Trenggono menjelaskan, rencana pembangunan kawasan tersebut tidak hanya digunakan untuk budidaya udang tetapi akan didorong menjadi sebuah kawasan industri.

“Dari sisi lahan rasanya sudah yang terbaik, karena berada di atas laut, karena kalau budidaya udang yang paling bagus itu bukan yang rata dengan laut tetapi harus di atas dari laut. Kita harapkan, dapat berjalan dengan baik dan juga dibantu dan diperhatikan serta diawasi dengan baik oleh Pemerintah Provinsi NTT,” ungkap Trenggono.

Dijelaskan, yang akan dibangun bukan hanya sekadar untuk berbudidaya udang tetapi kemudian akan dikembangkan menjadi industri.

“Nanti di situ selain ada processing, terus limbah/sampah berupa kulit harus diubah menjadi kolagen. Saya janji tender 2024 selesai tahap 1 dengan 500 hektare. Sementara kontraknya akan terus kita bangun dengan total yang akan kita investasi di sana untuk infrastruktur kira-kira Rp. 7,5 triliun”, papar Menteri Trenggono.

“Kalau seperti Sumba Timur nanti berhasil kita bangun, dan misalkan ke depannya kita punya 10 lokasi budidaya yang sama maka kita bisa mengalahkan industri udang di Ekuador”, lanjut Trenggono.

Menteri Trenggono juga berharap agar semua proses mulai dari tender segera dilaksanakan sehingga pekerjaan selanjutnya juga dapat dikerjakan.

“Harapan saya proses tendernya harus segera, dimana dalam bulan-bulan ini harus sudah beres sehingga nanti pekerjaan juga langsung dkerjakan. Selanjutnya kita serahkan Pemerintah Provinsi NTT untuk mensuplay listrik. Kita juga harapkan ada perumahan yang dibangun. Nanti di situ ada real estatenya yang tertata dengan bagus, karena kerjanya di situ”, kata Trenggono.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, Dr. TB. Haeru Rahayu, A.Pi, M.Sc juga memaparkan terkait perkembangan pembangunan Budidaya Udang Terintegrasi  (Integrated Shrimp Farming) di Kabupaten Sumba Timur.

Dijelaskan, saat ini posisi nya berada di tahapan kedelapan yaitu Penetapan Sumber Pembiayaan (PSP) dan sudah selesai. Selanjutnya tahapan kesembilan dan kesepuluh yaitu lelang rancang bangun dan lelang manajemen konstruksi.

“Jadi untuk menuju ke tahapan 9 dan 10 persyaratannya 1 kalau kami sudah ada Kepmen  desain and build yang akan ditandatangan Pak Menteri kemudian lahan juga sudah clear and clean. Kalau ini tercapai maka selanjutnya kami akan melobi teman-teman di Kemenkeu terkait dengan lelang KSA,” papar Dirjen Perikanan Budidaya.

Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat turut mendukung berbagai proses dan tahapan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan RI dalam proses pembangunan Budidaya Udang Terintegrasi (Integrated Shrimp Farming) di Kabupaten Sumba Timur.

Gubernur Viktor akan membantu semaksimal mungkin terkait dengan beberapa persoalan yang menjadi kendala dalam pembangunan tersebut seperti suplay listrik dan lahan.

“Pemerintah daerah akan mendukung program dan kegiatan Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, dengan menfasilitasi ketersediaan lahan. Terkait  suplay listrik kami akan bekerjasama dan mendatangkan tenaga ahli dari China,” ungkap Gubernur VBL.

Integrated Shrimp Farming merupakan perwujudan besar dari pengembangan Budidaya Udang Berbasis Kawasan yang telah terlebih dahulu dilakukan dan diresmikan oleh Presiden RI Joko Widodo pada 9 Maret 2023 lalu di Kebumen, Jawa Tengah.

Konsep pembangunan yang diterapkan pada Integrated Shrimp Farming  adalah terintegrasi dari hulu ke hilir dalam satu kawasan. Adapun zona hulu adalah hatchery dan pabrik pakan, lalu zona  budidaya (on Farm) yang merupakan kawasan pembangunan tambak, dan zona hilir berupa coldstorage, pabrik es dan pabrik styrofoam.

Kemudian ada juga zona fasilitas umum yang terdiri dari kantor, rumah ibadah, jalan, rumah karyawan, dll. Pembangunan integrated shrimp farming akan menghasilkan banyak dampak seperti meningkatkan devisa melalui ekspor, penerimaan pajak (PNBP dan PAD), menciptakan lapangan kerja dan multiplier effect  lainnya.

Hadir dalam pertemuan tersebut Dirjen Pengelolaan Ruang Laut , Victor Gustaaf Manopo, Staf Khusus MKP, Wahyu Muryadi, Sesditjen PDSPKP, Machmud, Sesditjen Perikanan Tangkap, Trian Yunanda.

Dalam rilis yang diterima Spiritntt.com dari Humas Pemprov NTT disebutkan, turut mendampingi Gubernur Viktor Laiskodat antara lain,  Wakil Ketua DPRD Provinsi NTT,  Christian Mboeik, Staf Khusus Gubernur NTT Bidang Kerja sama dan Hubungan Antar Lembaga, Anwar Pua Geno, Plt. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT, Stefania T. Boro, Kepala Biro Administrasi Pimpinan Setda Provinsi NTT, Prisila Q. Parera, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sumba Timur, Markus Windy, Kepala Badan Penghubung NTT : Hendry Donald Librianto Izaac. (spiritntt.com)

Tinggalkan Balasan