SPIRITNTT.COM, KUPANG – Amerika kembalikan 33 ekor Kura-Kura leher ular (Chelodina mccordi) yang sudah punah di habitat aslinya di sejumlah danau di Kabupaten Rote Ndao.
Dulu kura-kura tersebut hidup di sejumlah danau antara lain, Danau Peto di Desa Maubesi, Kecamatan Rote Tengah. Namun, di habitat aslinya sudah tidak ditemukan lagi.
Namun ternyata, spesies tersebut ternyata masih ada di sejumlah kebun binatang di luar negeri. Hal ini merupakan dampak dari perdagangan hewan langka yang dilakukan secara besar-besaran sekitar tahun 1980-an.
Berdasarkan data yang dimiliki Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia, saat ini ada sekitar 26 kura-kura endemik Rote tersebut dikembangbiakan di Singapura dan masih ada sejumlah lainnya ada di Amerika.
Pengembangbiakan kura-kura leher ular di negara tersebut merupakan bagian dari dukungan terhadap program reintroduksi agar spesies langka tersebut tidak punah.
Untuk itu pemerintah Indonesia berupaya mengembalikan hewan langka tersebut yang sesuai rencana akan dipulangkan untuk dikembalikan ke habitat aslinya di Kabupaten Rote Ndao.
Terkait upaya tersebut, pada Selasa (8/8/2023), telah tiba di Kupang sebanyak 33 Kura-kura Leher Ular Rote, dibawa dari Amerika Serikat.
Kura-kura tersebut langsung dibawa ke fasilitas karantina hewan milik Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT.
“Sebelum dilepaskan kita lakukan pengembangbiakan melalui fasilitas karantina hewan milik kita. Tentunya juga perlu adaptasi sebelum dibawa ke habitat aslinya di Rote Ndao,” kata Kepala BBKSDA NTT Arif Mahmud kepada wartawa, Selasa (8/8/2023).
Menurut Arif, kura kura tersebut didatangkan dari Amerika Serikat kemudian berada sementara di Singapura selama 10 bulan, untuk proses adaptasi. Setelah waktunya pas, diterbangkan ke Jakarta dan hari ini dibawa ke Kupang.
Pemulangan kura kura itu, difasilitasi oleh sejumlah organisasi pemerhati satwa dan lingkungan. Organisasi tersebut, memberikan perhatian terhadap upaya konservasi dari berbagai jenis spesies, termasuk kura kura leher ular Rote yang telah punah di habitatnya.
“Kita perlu memulihkan populasinya di alam. Untuk itu kita perlu mendapatkan indukan dari berbagai negara. Ternyata kura kura Rote ini tersebar di tiga negara yakni Singapura, Austria dan Amerika Serikat.
Dijelaskan, pemulangan Kura-Kura Leher Ular Rote, sudah berlangsung sebelumnya yakni pada Bulan September 2021 lalu. Saat ini ada 13 ekor dari Singapura dan Austria.
Menurut Arif, kura kura yang telah dipulangkan ini disebut koloni asuransi yang dipersiapkan untuk menjamin populasinya bisa kembali ke alam.
“Tentu kita berharap, dengan pemulangan atau repatriasi akan memulihkan populasi kura kura ular Rote di alamnya,” ujar Arif.
Sudah Punah
Dari berbagai sumber disebutkan, dari aspek keanekaragaman hayati flora dan fauna, kawasan hutan di Kabupaten Rote Ndao menjadi kawasan penting bagi pelestarian habitat satwa seperti burung, reptil hingga mamalia laut, salah satunya yaitu Chelodina mccordi atau yang dikenal sebagai kura-kura leher ular Rote.
Chelodina mccordi merupakan satwa endemik Indonesia dengan persebaran hanya ditemukan di Pulau Rote. Keberadaannya pertama kali dipublikasikan oleh Anders G. J. Rhodin pada tahun 1994 (Endarwin dkk, 2005).
Sekitar tahun 2004, kura-kura leher ular ini diusulkan untuk dimasukkan dalam daftar Appendix II CITES. Hal ini mengingat nilai ekonomi dari kura-kura leher ular yang cukup tinggi.
Sebab, kura-kura ini memiliki ciri fisik yang unik seperti lehernya yang panjang menyerupai ular. Keunikan ini menjadikan satwa ini menjadi banyak target perburuan dan perdagangan internasional.
Sementara dilansir dalam laman resmi BBKSDA Nusa Tenggara Timur peran yang dimiliki kura-kura leher ular termasuk penting dalam ekosistem, yaitu sebagai penjaga kesehatan perairan dengan memakan hewan perairan yang sudah mati.
Selain itu, bekas sarang bertelur dari satwa ini juga berperan dalam menyuburkan dan menambah kandungan nutrisi tanah.
Maraknya degradasi habitat dan adanya gangguan manusia dianggap sebagai salah satu kunci penyebab semakin sulitnya kura-kura leher ular ini dijumpai pada habitat alaminya di Pulau Rote.
Penurunan populasi yang ditemukan pada spesies ini menjadikan kura-kura leher ular Rote sebagai salah satu dari 25 kura-kura paling langka di dunia (Turtle Conservation Coalition, 2018). (spiritntt.com)




