WHO Pantau 25 Jenis Virus Baru Setelah Covid-19

Tenaga Kesehatan di Masa Pandemi. ILUSTRASI : iStock/Boyloso
Tenaga Kesehatan di Masa Pandemi. ILUSTRASI : iStock/Boyloso

SPIRITNTT.COM, JAKARTA – Setelah pandemi Covid-19 memporak porandakan dunia hampir tiga tahun belakangan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mulai mengantisipasi ancaman wabah lain di masa depan.

WHO baru-baru ini merilis daftar patogen prioritas yang dimungkinkan bisa menjadi wabah di masa depan. Daftar itu didapat melalui berbagai proses ilmiah yang terus dimutakhirkan.

Dirilisnya daftar itu ditujukan untuk menjadi panduan penelitian dan pengembangan global. Penelitian terutama berkaitan dengan vaksin, pengujian, hingga perawatan.

Dalam laman resmi WHO, sebanyak 300 ilmuwan dilibatkan dalam pertemuan perdana yang diadakan pada 18 November lalu. Para ilmuan itu akan mempertimbangkan bukti lebih dari 25 keluarga virus dan bakteri, serta “Penyakit X.”

Penyakit X disertakan untuk menunjukkan patogen yang tidak diketahui tapi dapat menyebabkan epidemi internasional yang serius. Para ahli akan merekomendasikan daftar patogen prioritas yang memerlukan penelitian dan investasi lebih lanjut.

Proses tersebut mencakup kriteria ilmiah dan kesehatan masyarakat. Kriteria yang terkait dengan dampak sosial ekonomi, akses, dan kesetaraan juga ikut dilibatkan.

Seperti dirilis CNNIndonesia, daftar patogen yang dimungkinkan menjadi wabah di masa depan sebenarnya bukan hal yang baru. Daftar ini pertama kali diterbitkan pada 2017 dan latihan prioritas terakhir dilakukan pada 2018.

Daftar saat ini termasuk Covid-19, demam berdarah Krimea-Cong, penyakit virus Ebola dan penyakit virus Marburg, demam Lassa, sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS) dan Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS), penyakit Nipah dan henipavirus, demam Rift Valley, Zika dan Penyakit X.

“Hal ini sangat penting untuk respon epidemi dan pandemi yang cepat dan efektif. Tanpa investasi R&D yang signifikan sebelum pandemi Covid-19, vaksin yang aman dan efektif tidak akan mungkin dikembangkan dalam waktu singkat,” kata Direktur Eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan WHO, Michael Ryan. (spiritntt.com)

Tinggalkan Balasan