Suami Dipasung, Ibu di Manggarai Timur-NTT Jual Sayur untuk Biaya Sekolah 4 Anak

Mama Agata sedang berdagang sayur di lapaknya di pasar Borong, Kelurahan Ranaloba, Kecamatan Borong,Kab. Manggarai Timur,NTT, Rabu, (1/2/2023). FOTO: DOK KKI Matim/MARKUS MAKUR)
Mama Agata sedang berdagang sayur di lapaknya di pasar Borong, Kelurahan Ranaloba, Kecamatan Borong,Kab. Manggarai Timur,NTT, Rabu, (1/2/2023). FOTO: DOK KKI Matim/MARKUS MAKUR)

SPIRITNTT.COM-Adalah Agata Ladang (41), seorang ibu di Kabupaten Manggarai Timur, NTT tak pernah menyangka akan mengalami nasib yang kurang beruntung. Betapa tidak, kondisi suaminya KH (40) mengalami gangguan jiwa terpaksa harus dipasung.

Akibatnya, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bagi suami dan empat orang anaknya, Agata harus berjuang keras .

Saban hari, Mama Aga, begitu dia disapa harus bangun lebih awal dari yang lain di dalam rumah kontrakan mereka di kompleks  Pasar Borong,  Kelurahan Ranaloba, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur untuk memasak dan mengurus anak-anaknya yang hendak ke sekolah. 

Setelah memberi makan keempat buah hati dan suaminya, Mama Aga bergegas menuju ke lapaknya untuk merapikan sayur mayur dagangannya.

Berbagai jenis sayur mayur dipajang di lapaknya. Bahkan di sela-sela kesibukannya, dia tetap mengurus anaknya yang sekolah.

“Saya berjuang keras untuk masa depan anak-anak yang sedang mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Anak pertama kami sekolah di SMK, kedua dan ketiga masih SD dan keempat belum sekolah dan tinggal bersama neneknya di kampung,” jelasnya saat bincang-bincang dengan relawan Kelompok Kasih Insanis (KKI) Peduli Sehat Jiwa Manggarai Timur, Rabu, (1/2/2023) di lapaknya

Dalam rilis yang diterima SPIRITNTT.COM, dari Markus Makur, Relawan KKI Manggarai Timur, Mama Aga mengisahnya ia membayar Rp. 56.000/tahun untuk lapaknya. Dan retribusi sampah Rp 28 ribu Sementara lapaknya berukuran kecil 1 x 2 dibangun sendiri untuk menjual berbagai jenis sayur mayur, pinang, daun sirih dan lain sebagainya.

Ia bersama 3 anak tinggal di rumah kontrakan di kompleks Pasar Borong, sementara anak ke 4 tinggal dengan neneknya di Kampung Papang, Desa Rana Masak, Kecamatan Borong.

Saat dia berdagang sayur mayur, suaminya dijaga kedua orangtuanya yang juga sudah usia lanjut di Kampung Papang, Desa Rana Masak, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur.

“Berdagang sayur mayur untuk membiayai pengobatan suaminya dan uang sekolah ketiga anaknya. Sambil berdagang, saya terus berdoa agar suami saya pulih dari deritanya,” ungkapnya.

KH (40), ODGJ Kampung Papang, Desa Rana Masak, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur, Kamis, (2/2/2023) dikunjungi Wakil Bupati Manggarai Timur, Siprianus Habur, Kepala Dinas Sosial, Mikael Jaur bersama stafnya, Staf Prokopim Manggarai Timur, Tenaga kesehatan dari Puskesmas Peot dan Dokter Dedek, serta relawan Kelompok Kasih Insanis (KKI) Peduli Sehat Jiwa.

Mama Agata sedang berdagang sayur di lapaknya di pasar Borong, Kelurahan Ranaloba, Kecamatan Borong,Kab. Manggarai Timur,NTT, Rabu, (1/2/2023). FOTO: DOK KKI Matim/MARKUS MAKUR)

Rombongan Wakil Bupati Manggarai Timur tiba dan langsung menyapa KH yang sedang duduk. Satu kaki KH dipasung. Tempat pasungnya di samping rumah keluarga. Sekitar lebih dari 45 menit Wakil Bupati bersama rombongan berada bersama KH.

Wakil Bupati Manggarai Timur menyerahkan bantuan satu karung beras. Selain itu tenaga medis (Nakes) dari Puskesmas Peot memeriksa tensinya.

Mama Aga mengisahkan, saat suaminya sehat, ia bekerja sebagai pedagang keliling dari kampung ke kampung dengan sepeda motor, menjual tahu tempe dan sayur mayur. Bahkan berdagang di beberapa pasar di beberapa lokasi pasar di Kecamatan Kota Komba dan Borong.

Sebelum kembali ke Kampung halamannya, mereka sempat merantau ke Kota Makassar, Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan. Dan anak pertama mereka lahir di Kota Makassar.

Dikisahkan, awal sakit suaminya, suatu hari ia membonceng seorang kakek tua di Kota Borong. Sang Kakek tua minta uang Rp 5000. Suaminya beri uang itu kepada kakek tersebut. Kemudian kakek itu menghilang. Sejak saat itu, suaminya kepikiran.

Kemudian, kisah kedua, ada pesta di tetangga kampung, terjadi perkelahian. Suaminya tidak terlibat perkelahian. Lalu suaminya mendamaikan orang yang berkelahian dan bertemu dengan salah satu keluarga di Kota Ruteng. Tiba-tiba, suaminya didampingi ayahnya tidak sampai di Kota Ruteng dan berhenti di sekitar jembatan di jalan Transflores Ruteng-Borong dan minum cairan pembasmi serangga.

Suaminya tertolong dengan perawatan di rumah sakit. Sesudah membaik, suaminya kembali ke kampung. Saat di kampung, suaminya ingin mengakhiri hidupnya dengan tidak wajar dengan membenturkan kepalanya ke dinding tembok.

“Bersyukur saya memeluknya sekuat tenaga. Saat itu saya masih dalam keadaan hamil.  Sejak 2017 lalu, suaminya bicara sendirian dan jalan-jalan tanpa arah. Sejak saat itu ia sakit,” jelasnya.

“Saya sungguh menderita dengan kondisi suami. Tapi, saya sangat mencintainya walaupun saya berjuang keras. Setiap akhir pekan saya pulang kampung untuk melihat suami. Saat ini suaminya dijaga orangtuanya untuk memberi makan,minum dan merawatnya sebab saya terus berjualan di Pasar Borong untuk memenuhi hidup keluarga dan membiayai anak-anak sekolah,” sambungnya.

Jual Sayur Mayur

Mama Aga saat dihubungi Relawan KKI Manggarai Timur melalui sambungan telepong selulernya, Kamis, (3/2/2023) malam, menjelaskan, penghasilan bersih dari hasil jual sayur mayur, sirih, pinang yakni Rp Rp.600 ribu per bulan. Selain itu bersama para pedagang lain mengumpulkan celengan Rp 20 ribu perhari. Selain itu, membayar kost atau kontrakan Rp 2 juta per tahun.

“Penghasilan ini sangat tidak cukup untuk membiayai kehidupan keluarga. Tapi, saya terus berjuang agar anak-anak kami bisa tetap sekolah,” jelasnya.

Mama Aga menjelaskan, dia membayar uang komite bagi anak sulungnya yang duduk di salah SMK di Manggarai Timur senilai Rp 1.5 juta per tahun. Uang komite anak kedua Rp 670 ribu per tahun yang sedang duduk di kelas VI SD dan biaya uang komite anak ketiga sebesar Rp 520 ribu per tahun yang masih duduk di kelas III SD. Sedangkan anak ketiga belum sekolah dan tinggal bersama kakek neneknya di kampung.

“Saya tidak pernah menyerah dengan kondisi yang saya alami. Tapi, saya berjuang keras dengan menjual sayur mayur di Pasar Borong,” ungkapnya. (spiritntt.com)

Tinggalkan Balasan