SPIRITNTT.COM, KUPANG – Wakil Gubernur NTT, Josef Adreanus Nae Soi, (JNS) mengatakan, pengukuhan Prof. Dr. drh. Maxs Urias Ebenhaezar Sanam, M.Sc menjadi Guru Besar ke-40 di Universitas Nusa Cendana diharapkan terus memacu dan memicu semua dosen di Undana untuk berjuang dan berkompetisi dapat menjadi guru besar.
Doktor Ilmu Hukum Jebolan Universitas Padjadjaran Bandung ini menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi NTT turut berbangga atas prestasi akademik tertinggi yang telah diraih Prof. Sanam, dimana beliau tercatat juga sebagai Profesor Pertama Aktif pada Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan Undana Kupang.
“Menjadi profesor tentunya menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi seorang akademisi, karena ini sebuah prestasi dengan pangkat tertinggi pada jenjang perguruan tinggi. Ini sebuah capaian akademis yang membanggakan”, ungkap Nae Soi pada Rapat Senat Terbuka Luar Biasa Universitas Nusa Cendana Kupang, pada Rabu (8/3) di Auditorium Universitas Nusa Cendana, Penfui Kupang.
Politisi Senior Partai Golkar ini juga mengatakan keberhasilan yang diraih Profesor Sanam dilalui melalui sebuah perjuangan yang tidak mudah, penuh tantangan dan tak kenal menyerah.
“Gelar professor yang diraih Pak Sanam juga memberi makna bahwa setiap individu harus belajar dengan penuh semangat. Belajar itu bukan sekadar mencapai gelar tertinggi, tetapi ilmu yang ia dapati harus benar-benar bermakna dan memberi nilai positif sebagai sumbangsih mulia bagi kemajuan peradaban manusia”, jelas Mantan Anggota DPR RI ini.

Sekretaris Dirjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi RI, yang saat ini menjabat sebagai Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbudristek : Profesor Tjitjik Tjahjandarie, dalam sambutannya mengatakan, pengukuhan Prof. Dr. drh. Maxs Urias Ebenhaizer Sanam, M.Sc, menjadi Guru Besar Faktultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan Aktif Pertama di bidang Mikrobiologi dan Parasitologi.
“Profesor Sanam memiliki jumlah dokumen publikasi terindeks Scopus: 5, serta H-index: 1, yang sekaligus juga mengawali rangkaian pengukuhan guru besar yang akan dikukuhkan pada tahun 2023 di Undana”, ungkap Profesor Tjitjik Tjahjandarie.
Profesor Tjitjik Tjahjandarie juga mengajak para akademisi lain di Undana, untuk berkompetisi mencapai jabatan guru besar.
“Perlu kita sadari bahwa pencapaian guru besar ini bukan hanya capaian individu seorang akademisi, namun juga menjadi capaian penting bagi institusi perguruan tinggi”, ujar Profesor Tjitjik.
Kembangkan Vaksin Hewan
Prof. Dr. drh. Maxs Urias Ebenhaezar Sanam, M.Sc, dalam orasi ilmiahnya, yang berjudul : Peranan Mikrobiologi Veteriner dalam Pencegahan, Penanganan, dan Pengendalian Penyakit Infeksi Emerging pada Hewan di Indonesia, menyatakan bahwa ancaman akan munculnya potensi pandemik baru adalah nyata akibat perubahan iklim global.

Selain itu tambahnya, juga dipengaruhi mutasi genetik mikroba, intensitas kontak manusia dengan hewan liar yang semakin tinggi akibat perubahan perilaku, mobilitas hewan dan orang yang semakin tinggi, dan faktor-faktor pemicu lainnya.
Namun, tambahnya, optimismes haruslah tetap dibangun bahwa dengan kekuatan IPTEK yang didasarkan pada pengetahuan dan pengalaman akan pandemik sebelumnya (Covid-19) kita akan lebih siap dalam mencegah kejadian ataupun lebih tanggap dan sigap dalam penanganan dan pengendalian pandemik baru.
Prof. Dr. drh. Maxs Urias Ebenhaezar Sanam, M.Sc, yang diangkat menjadi Guru Besar Undana sesuai SK Mendibudristek RI Nomor 6160/M/07/2023, imi juga mengatakan bahwa Penyakit emerging hewan dalam beberapa tahun terakhir telah dikaitkan dengan kejadian wabah yang berkonsekuensi serius terhadap kesehatan hewan dan manusia.
“Strategi serta tindakan yang cepat dan tepat untuk mengurangi risiko penyakit hewan emerging dan re-emerging sangatlah penting untuk mengendalikan efek langsung dan tidak langsung mereka. Seperti dampak merugikan yang nyata pada kesehatan hewan dan manusia dan 8 implikasi ekonomi yang lebih luas dalam hal pendapatan yang hilang dan biaya sosial yang meningkat akibat wabah penyakit”, kata suami dari drh. Hembang Murni Pancasilawati.
Lebih jauh Profesor Sanam, yang adalah alumnus Magister pada James Cook University of North Queensland Australia Tahun 1997 ini, menyampaikan tentang peranan mikrobiologi berikutnya adalah pengembangan vaksin.
“Kemajuan mikrobiologi veteriner telah memungkinkan pengembangan beragam vaksin yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit infeksi emerging pada hewan. Vaksin dapat membantu mengurangi tingkat infeksi dan penyebaran penyakit”, ungkap Wakil Rektor Bidang Akademik Undana tahun 2018-2021 ini.
Penerima Penghargaan Dokter Hewan Berprestasi di Bidang Akademik Tahun 2021 ini mengatakan juga bahwa Pengetahuan tentang mikrobiologi veteriner sangat penting dalam upaya pencegahan, penanganan, dan pengendalian penyakit emerging pada hewan di Indonesia.
Hal ini tidak hanya berdampak pada kesehatan hewan, tetapi juga pada kesehatan manusia dan lingkungan.
Rapat Senat tersebut dipimpin Sekretaris Senat : Prof. Dr. Jefri S. Bale, ST, M. Eng, yang didampingi seluruh Anggota Senat dan sejumlah Guru Besar pada Undana Kupang, serta turut hadir menyaksikan ratusan undangan. (spiritntt.com)




