Posisi Ganjar Terancam Jika Anies Gandeng Khofifah

Anies Baswedan - Khofifah Indar Parawansa. FOTO : IST
Anies Baswedan - Khofifah Indar Parawansa. FOTO : IST

 SPIRITNTT.COM, JAKARTA – Hingga saat ini, nama-nama Calon Presiden (Capres) seperti Ganjar Pranowo, Anies Baswedan, Prabowo Subianto yang beredar di masyarakat belum ada satu pun yang sudah memiliki Calon Wakil Presiden (Cawapres).

Untuk Capres Anies Baswedan yang sudah dideklarasikan Partai NasDem dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) saja hingga saat ini juga belum ada Cawapresnya.  Anies juga sudah didukung Partai Demokrat walaupun belum dideklarasikan.

Sebelumnya disebut-sebut, PKS mengusulkan kadernya Ahmad Heryawan. Sementara Partai Demokrat mengusung Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Namun hasil survel menunjukkan, jika Anies Baswedan menggandeng Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa maka akan mengancam posisi Ganjar Pranowo.

Menurut survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) mencatat kecenderungan massa Nahdlatul Ulama (NU) lebih dominan memilih Ganjar Pranowo ketimbang Anies Baswedan.

Survei ini dilakukan terhadap tiga tokoh yang populer disebut potensial maju sebagai capres di Pemilu 2024. Selain Ganjar dan Anies, SMRC juga turut melibatkan nama Prabowo Subianto.

Pada survei yang dibuat pada Desember 2022 lalu, Saiful Mujani membagi responden massa NU menjadi anggota aktif NU dan anggota tapi tidak aktif di NU.

“Ternyata antara anggota yang aktif ke Ganjar paling banyak 47 persen, 18 (persen) pada Anies, 24 (persen) pada Prabowo,” ujar Saiful dalam acara ‘Bedah Politik’ yang disiarkan melalui SMRC TV pada Kamis (23/2).

Sementara itu, sebanyak 46 persen anggota NU tidak aktif mendukung Ganjar, 23 persen mendukung Anies, lalu 27 persen memilih Prabowo.

Saiful menjelaskan, orang yang paling kuat di mata massa NU itu pertama adalah Ganjar, kedua Prabowo, kemudian yang terakhir Anies.

Menurut Saiful, Anies perlu menggandeng tokoh NU seperti Khofifah Indar Parawansa jika ingin mengambil alih dominasi keterpilihan di organisasi Islam terbesar di Indonesia itu.

“Anies kurang kuat di jemaah NU. Kalau ada upaya-upaya menarik Khofifah misalnya bergandengan dengan Anies, bisa saling mengisi,” jelas Saiful.

Saiful menjelaskan hasil survei ini dengan asumsi belum melibatkan tokoh NU yang masuk di antaranya.

Saiful menyoroti hasil yang menunjukkan Ganjar unggul dibanding Anies di massa NU bisa dikaitkan dengan NU sebagai organisasi santri.

Saiful mengidentifikasi dua tipologi santri, yakni tradisionalis dengan modernis.

“Mungkin tipologi di santri itu tradisionalis dengan modernis itu cukup kuat dan itu secara politik tidak mudah bersama-sama. Jadi kita melihat bahwa orang NU lebih bisa secara politik bekerja sama dengan orang nasionalis ketimbang dengan orang modernist. Kira-kira begitu. Kalau dilihat faktanya, itu kemungkinan penjelasannya,” jelas Saiful seperti dikutip CNN Indonesia.

Lebih lanjut, Saiful juga menjabarkan hasil survei yang dilakukan pihaknya terhadap organisasi lain, seperti Muhammadiyah dan organisasi masjid.

Ia menyebut jumlah sampel Muhammadiyah yang diperoleh hanya sedikit, yakni 3 persen. Sampel tersebut menunjukkan bahwa 46 persen anggota aktif Muhammadiyah memilih Ganjar, 33 persen memilih Anies, dan 14 persen kepada Prabowo.

SMRC juga mengumpulkan sampel dari orang-orang yang aktif dalam kegiatan sosial keagamaan yang disebut organisasi masjid. Adapun hasilnya menunjukkan bahwa 33 persen anggota aktif organisasi masjid memilih Anies, 32 persen mendukung Prabowo, lalu 23 persen memilih Ganjar. (spiritntt.com)

Tinggalkan Balasan