Pakar UGM Sebut Emosi Negatif Bisa Tersulut Gara-gara Kebijakan Masuk Sekolah Jam 5 Pagi

Siswa SMA Negeri 6 Kota Kupang, Provinsi NTT sedang mengikuti upacara sebelum masuk sekolah jam 5 pagi. Foto: Antara
Siswa SMA Negeri 6 Kota Kupang, Provinsi NTT sedang mengikuti upacara sebelum masuk sekolah jam 5 pagi. Foto: Antara

SPIRITNTT.COM, JAKARTA – Penerapan jam masuk sekolah pukul 05.30 Wita yang dilakukan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terus menuai polemic.

Jika sebelumnya dilakukan ujicoba di 10 sekolah yaitu SMA/K Negeri di Kota Kupang, kini hanya difokuskan untuk dua sekolah saja yaitu SMA Negeri 1 dan SMA Negeri 6 Kota Kupang.

Kendati mendapat berbagai aksi penolakan dari berbagai kalangan, Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Lasikoda tetap menjalankan kebijakan tersebut.

Bahkan pada Jumat (3/3/2023) Gubernur Viktor mendatangi SMA Negeri 6 Kota Kupang untuk memantau sekaligus mengikuti apel di sekolah tersebut.

Menurut Pengamat Perkembangan Anak, Remaja, dan Pendidikan dari Fakultas Psikologi UGM, T Novi Poespita Candra, SPsi, MSi, PhD, Psikolog, kebijakan yang diterapkan tersebut kurang bijaksana dan kurang komprehensif.

“Dalam kajian perkembangan dan pendidikan sampai saat ini belum ada studi yang menjustifikasi jika sekolah dimulai lebih pagi dan menambah lama jam sekolah memiliki signifikansi terhadap etos belajar, kedisiplinan, dan prestasi siswa. Dengan begitu kebijakan ini kurang bijaksana,” paparnya dalam situs UGM dikutip, Jumat (3/3/2023).

Menurut Novi, kebijakan tersebut akan menimbulkan dampak buruk jika tetap dijalankan. Kebijakan sekolah masuk lebih pagi bisa berdampak negatif pada fisik, emosi, maupun kognisi siswa.

Berikut penjelasannya.

1. Sisi Fisik

Dari sisi fisik, masuk sekolah lebih pagi akan memengaruhi kualitas tidur sehingga berpengaruh pada kondisi fisik anak.

Selain itu, penambahan jam sekolah akan mengakibatkan kelelahan kronis pada anak yang bisa menurunkan imunitas tubuh. Anak jadi rentan terkena penyakit dan pada akhirnya memengaruhi fokus belajar anak.

“Masuk lebih pagi, terburu-buru, dikhawatirkan anak-anak jadi tidak sempat sarapan atau sarapan, namun kurang berkualitas sehingga memengaruhi konsentrasi belajar di sekolah,” jelasnya.

2. Sisi Emosi

Masuk sekolah terlalu pagi juga akan berpengaruh pada emosi anak.

Co-Founder Gerakan Sekolah Menyenangkan itu mengatakan harus bangun lebih pagi yang tentunya bukan menjadi hal yang mudah. Orang tua juga berprotensi tersulut emosinya ketika menjumpai anak-anak belum siap.

“Akan berpotensi memunculkan problem emosi, yang seharusnya berangkat dengan emosi positif penuh harapan dan motivasi. Namun, justru diawali dengan emosi negatif. Belum lagi kalau terlambat anak akan menerima hukuman, di sini anak-anak juga bisa timbul emosi dan begitu juga gurunya emosi karena capek,” urainya.

Menurutnya, ada lingkaran persoalan emosi negatif yang dimunculkan dalam kondisi ini. Apabila berlangsung dalam jangka panjang, dikhawatirkan dapat menurunkan motivasi belajar siswa dan mengajar guru.

3. Sisi Kognitif

Kebijakan tersebut juga memengaruhi aspek kognitif anak.

Novi menjelaskan, otak manusia akan berfungsi secara optimal jika kondisi seluruh tubuh berada dalam keadaan fit dan bahagia. Jika hal itu tidak terjadi maka otak tidak dapat berfungsi secara optimal.

Akibatnya, anak mengalami penurunan kualitas numerasi, literasi, serta pengambilan keputusan.

Keamanan anak pun ikut terancam dengan kebijakan ini. Novi mengkhawatirkan anak-anak di wilayah pinggiran yang harus melalui jalan sepi saat hari masih gelap.

“Kalau masuk lebih pagi kan masih gelap. Ini perlu dipikirkan keamanannya, terutama daerah-daerah pinggiran yang jalanannya masih sepi kan bahaya,” tuturnya.

Lebih lanjut, Novi menilai kebijakan masuk sekolah pagi untuk mendorong kedisiplinan siswa pada realitanya tidak tercapai.

Ia mengatakan kebijakan sekolah pagi kurang empatik dan komprehensif karena tidak mempertimbangkan kondisi siswa dan guru.

“Dari investigasi beberapa media tercatat tidak semua anak punya kendaraan sendiri sehingga harus menyewa lebih mahal. Ada juga orang tua yang mengeluh tidak bisa pergi bekerja karena harus mengantar anaknya dahulu. Kebijakan ini jadi kurang terlihat memanusiakan,” jelasnya.

Novi kembali menegaskan kebijakan yang ditetapkan pemprov NTT kurang tepat.

Menurutnya, memajukan jam masuk sekolah bukanlah satu-satunya cara untuk mewujudkan kedisiplinan hingga etos belajar siswa.

Cara yang dirasa efektif untuk membentuk kultur belajar di sekolah adalah yang memfasilitasi kodrat-kodrat manusia yang berupa rasa keingintahuan, dialog, serta kreativitas. “Untuk meningkatkan displin, etos belajar, dan prestasi pada siswa remaja ini yang dibutuhkan adalah motivasi atau kesadaran dalam diri siswa. Kalau di sekolah dibangun rasa ingin tahu, belajar berdasar kasus, eksperimen, maka akan-anak akan dengan sadar dan punya motivasi belajar,” katanya. (spiritntt.com)

Tinggalkan Balasan