SPIRITNTT.COM, JAKARTA –Covid-19 varian XBB dan varian lainnya terus melonjak . Berdasarkan data mingguan Kemenkes, pasien Covid-19 yang paling berisiko meninggal adalah mereka yang belum pernah divaksinasi.
Menurut Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin, dilihat dari tren kasus kematian Covid-19 mingguan, proporsi meninggal pasien tidak divaksinasi lebih dominan dibandingkan mereka yang sudah menerima booster atau vaksin Covid-19 dua dosis.
“Masyarakat yang belum divaksin sangat berisiko meninggal di wave (gelombang) kali ini,” kata Menkes Budi Gunadi dalam pesan tertulis, Rabu (16/11).
Data yang dihimpun Kemenkes RI periode 4 Oktober hingga 14 November 2022 menunjukkan 221 orang meninggal karena Covid-19 belum didivaksinasi. Sementara kasus kematian Covid-19 dengan status vaksinasi satu dosis sebanyak 33 orang, sementara status vaksin Covid-19 dua dosis vaksin 122 orang.
Persentase lebih kecil dilaporkan pada kelompok penerima booster, hanya 88 atau 19 persen kasus dari kumulatif kematian mingguan. Dalam sepekan terakhir, ada 467 orang yang meninggal.
Rekor tertinggi dilaporkan pada Rabu (16/6) dengan laporan 54 kematian dan dua hari sebelumnya, Senin (14/6) juga tercatat 54 orang meninggal karena Covid-19.
Tersisa 3 kasus kematian Covid-19 yang belum teridentifikasi status vaksinasinya. Sementara kematian di kelompok usia ditemukan sebagai berikut:
0-5 tahun: 21 kasus
6-11 tahun: 4 kasus
12-18 tahun: 4 kasus
19-59 tahun: 163 kasus
Lebih dari 60 tahun: 275 kasus
Eks Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara Prof Tjandra Yoga Aditama sempat mempertanyakan angka kematian Covid-19 yang tinggi melampaui beberapa negara dengan kasus harian Covid-19 di atas Indonesia.
Menurutnya, kemungkinan besar banyak kasus Covid-19 di masyarakat tak teridentifikasi lantaran rendahnya testing hingga tracing.
Sementara Menkes Budi menyebut puncak kasus Covid-19 bisa terjadi di awal Januari 2023 dengan perkiraan 20 ribu kasus per hari. Berkaca pada apa yang terjadi di banyak negara termasuk Singapura.
Ada tiga varian Omicron baru yang teridentifikasi di Indonesia sejauh ini, diduga kuat menjadi penyebab lonjakan kasus kembali terjadi, yakni XBB, BQ.1, dan BA.2.75.
Biang Kerok
Subvarian Omicron XBB diduga menjadi biang kerok lonjakan kasus Covid-19 RI kali ini. Meski gejalanya diyakini lebih ringan dibandingkan varia Delta biang lonjakan Covid-19 besar-besaran di RI pada 2021, dokter menyoroti ada kelompok tertentu yang rentan mengalami perburukan kondisi imbas Omicron XBB.
Ketua Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan RSUP Persahabatan dr Prasenohadi, PhD, SpP(K), KIC menjelaskan, pasien-pasien Covid-19 yang harus menjalani perawatan di rumah sakit kini memang mengalami penurunan gejala.
Namun ia menemukan, sebagian besar pasien adalah pengidap penyakit penyerta atau komorbid seperti gagal ginjal kronis, kelainan jantung kronis, atau kanker ganas.
Kebanyakan dari pasien tersebut juga belum menerima suntikan vaksin Covid-19 dosis lengkap.
“Jadi memang vaksinasi ini memang sangat berguna dan kalau dilihat hampir sebagian besar pasien yang dirawat belum divaksin atau belum dilakukan vaksinasi yang lengkap. Mungkin hanya satu kali, dua kali, berbeda dengan orang-orang yang sudah lengkap,” ungkapnya dalam konferensi pers virtual, Rabu (16/11) seperti dikutip detikhealth
Lebih lagi dr Pras menambahkan, pasien Covid-19 yang meninggal dunia umumnya memang sudah dalam kondisi sakit berat dan harus menjalani pengobatan rutin.
“Pasien yang meninggal mortalitasnya memang yang besar adalah orang-orang dengan komorbid. Usia lanjut, ada penyakit penyerta contohnya pasien dengan HIV, gagal ginjal. Memang sebelumnya sudah memiliki penyakit yang berat kemudian diperparah dengan Covid,” beber dr Pras.
“Ada beberapa pasien yang parunya bagus normal, tapi ada penyakit di orang lain yang memang harus menjalani pengobatan yang rutin dan itu yang harus diperhatikan pada orang dengan usia tua dan komorbid,” pungkasnya.
Data terakhir per Rabu (16/11/2022), kasus harian Covid-19 RI sudah menembus 8 ribu kasus, dengan angka 8.486 kasus baru dibarengi 4.255 kasus sembuh dan 54 pasien meninggal dunia. Kasus harian tersebut merupakan jumlah tertinggi terhitung sejak April 2022. (spiritntt.com)




