Mengenang Perjalanan Bunda Teresa. Peduli Orang Miskin Hingga Berkiprah di 123 Negara

Bunda Teresa. ISTIMEWA
Bunda Teresa. ISTIMEWA

SPIRITNTT.COM, JAKARTA– Anjezë Gonxhe Bojaxhiu ketika masih anak-anak ia terpesona dengan kisah kehidupan misionaris dan pelayanan di Benggala. Hampir setiap hari, dia menyaksikan perjalanan hidup para misionaris tersebut.

Ketika berumur 12 tahun, ia yakin dan berkomitmen untuk menjalani kehidupan beragama dan terpanggil untuk melayani masyarakat miskin.

Pada umur 18 tahun, akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan rumah dan bergabung dengan Kesusteran Loreto di Irlandia sebagai misionaris dan tidak pernah lagi melihat keluarga kecilnya.

Walaupun memiliki nama lahir Anjezë Gonxhe Bojaxhiu tetapi dia lebih dikenal sebagai Bunda Maria Teresa Bojaxhiu atau dikenal dengan Bunda Teresa.

Dia adalah seseorang yang dihormati sebagai Santa Teresa dari Kalkuta oleh gereja Katolik setelah dikanonisasi.

Bunda Teresa adalah seorang biarawati Katolik dan misionaris India berdarah Albania yang lahir pada 26 Agustus 1910 di Üsküb (Skopje).

Meskipun ia lahir pada 26 Agustus, tetapi ia menganggap 27 Agustus (hari pembaptisannya) sebagai hari ulang tahun-nya.

Menurut tempo.co yang mengutip laman Mother Teresa, Bunda Teresa mengambil sumpah pertamanya sebagai seorang biarawati pada 1931. Saat itu, ia memilih untuk diberi nama Thérése de Lisieux, santo pelindung misionaris.

Namun, biarawati sudah ada yang memilih nama itu sehingga ia memilih pengejaan Spanyol, yaitu Teresa. Meskipun ia menikmati mengajar di sekolah, tetapi ia masih terganggu dengan kemiskinan di sekitarnya.

Akhirnya, pada 1948, ia memulai pekerjaan misionarisnya bersama orang miskin. Ia mengawalinya di sebuah sekolah di Motijhil (Kalkuta).

Satu tahun kemudian, ia bergabung dalam usahanya dengan kelompok perempuan muda dan menciptakan sebuah komunitas baru untuk membantu orang termiskin di antara kaum miskin. Usahanya ini dengan cepat menarik perhatian pejabat India, termasuk perdana menteri.

Pada 1950, ia memulai kongregasi keuskupan yang menjadi Misionaris Cinta Kasih. Awalnya, anggota kongregasi ini hanya 13, sekarang menjadi lebih dari 4.000 suster yang menjalankannya.

Lalu, pada 1952, ia membuka Home for the Dying di Kalighat yang menjadi sebuah rumah sakit gratis untuk orang miskin. Pada 1955, ia pun membuka Nirmala Shisu Bhavan sebagai perlindungan yatim piatu dan remaja tunawisma.

Pada 1965, ordo ini dibuka di Venezuela dan menyebar luas ke seluruh dunia, bahkan Amerika Serikat.

Berkat pekerjaan kemanusiaan dan advokasi bagi hak-hak orang miskin, pada 17 Oktober 1979, Bunda Teresa dihadiahi Nobel Perdamaian.

Penganugerahaan Nobel Perdamaian Bunda Teresa menjadi salah satu peristiwa bersejarah pada 17 Oktober.

Selama lebih dari 47 tahun, Bunda Teresa telah melayani dengan tulus orang miskin, sakit, yatim piatu, bahkan sekarat. Selain itu, ia juga membimbing ekspansi Misionaris Cinta Kasih ke negara lain.

Sebelum meninggal dunia, ia pun telah menjalankan 610 misi di 123 negara, salah satunya adalah penampungan dan rumah bagi penderita HIV/AIDS, lepra, TBC, program konseling anak dan keluarga, panti asuhan, dan sekolah, seperti dilansir dalam laman DNAIndia.

Pada 1983, Bunda Teresa menderita serangan jantung dan pneumonia. Meskipun ia berhasil melawan pneumonia, tetapi serangan jantung setiap harinya semakin memburuk.

Lalu, pada 1996, ia didiagnosa mengalami gagal jantung di ventrikel kiri sehingga harus menjalani operasi jantung. Sayangnya, pada 5 September 1997, ia harus menghembuskan napas terakhirnya.

Bunda Teresa dibaringkan di Gereja St. Thomas, Kalkuta selama satu minggu sebelum pemakamannya pada September 1977. Ia diberi pemakaman kenegaraan oleh pemerintah India sebagai bentuk terima kasih atas jasanya kepada kaum miskin dari semua agama di India.(spiritntt.com)

Tinggalkan Balasan