Jusuf Kalla Nilai Tarif Masuk Komodo Terlalu Mahal dan Usul Rp 1 Juta

Jusuf Kalla. ISTIMEWA
Jusuf Kalla. ISTIMEWA

SPIRITNTT.COM, JAKARTA – Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai tarif baru di Pulau Komodo dan Pulau Padar sebesar Rp 3,75 juta kemahalan.

Oleh karena itu Jusuf Kalla mengusulkan agar tarif yang pas ke Pulau Komodo dan Pulau Padar itu adalah Rp 1 juta plus pembatasan pengunjung.

“Jadi itu kita turunkan tarif Rp 1 juta dan kita batasi jumlah pengunjung sampai 500 tiap hari lebih pas,” ujar Jusuf Kalla dalam siaran pers yang diterima Detik.com, Minggu (7/8)

JK, yang pernah menjadi duta pemenangan Komodo sebagai tujuh keajaiban dunia baru atau The New Seven Wonders 2012-2013, prihatin dengan aksi mogok pelayanan wisata di Labuan Bajo, khususnya di Pulau Komodo.

Apalagi, setelah melihat penyebabnya, yakni penerapan tarif baru Rp 3,75 juta untuk menikmati wisata Komodo.

Jusuf Kalla menilai penerapan tarif baru ke Pulau Komodo itu yang tinggi secara signifikan dapat mempengaruhi jumlah kunjungan wisata ke Labuan Bajo. Yang terkena imbasnya adalah dunia wisata.

“Sementara, pada sektor tersebut banyak masyarakat yang menggantungkan hidupnya. Perhotelan, kuliner, pelayaran, unit usaha-usaha kecil masyarakat hingga nelayan penangkap ikan yang membantu memenuhi kebutuhan warga sekitar ikut terkena imbasnya. Demikian halnya dengan penerbangan yang sebelumnya ramai, juga terancam kehilangan penumpang,” ujar Jusuf Kalla.

“Karenanya, itu tarif ini perlu dievaluasi. Saya usulkan tarifnya diturunkan, katakanlah, Rp 1 juta dan pengunjung dibatasi dengan kuota, misalnya 500 orang per hari,” ujar JK.

Menurut JK, angka tersebut sangat terukur artinya dapat Rp 500 juta tiap hari, dan per bulan bisa Rp 15 miliar.

“Itu lebih pasti,” JK menambahkan.

Dengan demikian, masyarakat tetap mendapat penghasilan, karena hotel hidup, restoran hidup dan lain lainnya semua memiliki efek. Dia yakin Labuan Bajo bisa berdenyut kembali.

Wisata ke Pulau Komodo tambahnya, tidak bisa disamakan dengan Bali. Orang-orang akan berwisata ke Pulau Komodo tidak untuk berulang kali, tetapi mungkin hanya sekali seumur hidupnya.

“Yang penting sudah pernah lihat. Jadi wisata itu harus memberikan ketenangan. Kalau di daerah wisata tidak tenang, ramai aksi demo, maka wisatawan tidak akan datang,” kata JK. (timspiritntt.com)

Tinggalkan Balasan