Jasa Raharja, dari Ambulance hingga Biaya Kuburan

Jasa Raharja Cabang NTT serahkan santunan ahli waris korban kecelakaan di Jalan Tol Ogan Komering Ilir asal Atambua, Kabupaten Belu beberapa waktu lalu. FOTO:DOK Jasa Raharja
Jasa Raharja Cabang NTT serahkan santunan ahli waris korban kecelakaan di Jalan Tol Ogan Komering Ilir asal Atambua, Kabupaten Belu beberapa waktu lalu. FOTO:DOK Jasa Raharja

KELUARGA Nurul Jannah (40), warga Kelurahan Naikoten 1, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang  tentu tak pernah menduga bahwa Nurul akan kembali ke rumah dalam kondisi tanpa nyawa.

Tak ada firasat dan tanda-tanda awal yang diterima keluarga besarnya bahwa Nurul akan pergi selamanya. Keluarga semua yakin, bahwa Nurul masih menjalankan aktivitasnya seperti hari-hari sebelumnya.

Pada pagi hari ketika keluar dari rumah, Nurul masih dalam keadaan sehat walafiat. Dia mengendarai motor Suzuki Spin tunggangan kesayangannya. Pagi hari itu dia melaju dengan motor kesayangan dengan nomor polisi DH 5499-AY.

Namun, nasib berkata lain, Nurul harus mengakhiri ziarahnya di dunia ini. Dia terlibat kecelakaan di Jalan Urip Sumaharjo, tepatnya di depan Kantor Perpustakaan, Kelurahan Merdeka, Kecamatan Kota Lama pada, Jumat (2/9)

Saat itu, Nurul berada di depan sebuah truk tangki Pertamina dengan nomor Polisi B 9091 SFV.  Naas menimpa Nurul, truk tangki Pertamina tersebut mempercepat lajunya karena memang muatan tangkinya penuh dan melaju di tanjakan. 

Pada saat bersamaan Nurul berada tepat di depan mobil tangki Pertamina tersebut. Mungkin karena mobil tangki Pertamina  lebih cepat dari motor yang dikendarai Nurul, maka kecelakaan tidak bisa dihindari. Akhirnya terjadilah kecelakaan itu. Truk tangki Pertamina menabrak dari belakang dan menyeret Nurul beberapa meter ke depan.

Naas, Nurul meninggal di tempat kejadian perkara (TKP). Nyawanya tidak dapat diselamatkan. Tangan kanan Nurul patah. Begitu juga dengan rahang kirinya.

Sebagai manusia tentu keluarga tidak bisa menerima kondisi ini, sebab pergi dengan sehat tetapi kembali dalam kondisi sudah menjadi mayat. Namun, sebagai insan beriman tentunya menyerahkan semua itu sebagai takdir atau penyelenggaraan Ilahi.

Kecelakaan lalulintas seperti kisah di atas sering terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Mungkin setiap hari ada kecelakaan lalulintas yang terjadi di NTT yang akibatnya bisa menyebabkan orang meninggal, cacat permanen, luka ringan dan lainnya.

Dari berbagai kecelakaan tersebut, timbul pertanyaan seperti apa peran dari PT Jasa Raharja dalam membantu korban atau keluarga korban kecelakaan? Apakah selama ini Jasa Raharja juga sudah memberikan santunan terhadap setiap kecelakaan lalulintas yang terjadi di darat, laut maupun udara?

Bila ditelusuri lebih jauh ternyata PT Jasa Raharja sangat berperan dalam upaya membantu korban-korban kecelakaan lalulintas dimana saja terjadi di seluruh Indonesia, khususnya di NTT. Bentuk bantuan Jasa Raharja dalam bentuk santunan kecelakaan, biaya pengobatan di Rumah Sakit.

Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan RI No.15 dan 16/PMK.10/2017 tanggal 13 Februari 2017, besaran santunan bagi korban kecelakaan lalu lintas darat/laut/udara adalah meninggal dunia Rp. 50 juta, cacat tetap (maksimal) Rp.50 juta, perawatan (maksimal) Rp. 20 juta (darat/laut)  dan udara Rp 25 juta.

Selain itu, Jasa Raharja juga memberikan penggantian biaya penguburan bagi yang tidak punya ahli waris sebesar Rp 4 juta, manfaat tambahan penggantian biaya P3K (maksimal) Rp 1 juta dan manfaat tambahan penggantian biaya ambulance (maksimal) sebsar Rp. 500 ribu.

Jadi apa yang diberikan Jasa Raharja itu begitu komplit kepada korban kecelakaan lalulintas. Namun, bantuan yang diberikan tersebut tentu karena para korban kecelakaan merupakan anggota atau nasabah dari Jasa Raharja.

Menurut Kepala PT Jasa Raharja Cabang Nusa Tenggara Timur, Muhammad Hidayat, S.H, keanggotaan dari Jasa Raharja itu sebenarnya seluruh warga negara Indonesia. Bahkan warga yang baru lahir itu secara otomatis menjadi anggota Jasa Raharja. Hanya selama ini sepertinya Jasa Raharja dekat dengan yang namanya korban lakalantas.

Agar kita tercover dalam bantuan yang diberikan Jasa Raharja sebenarnya sangatlah mudah dan sederhana yaitu rutin membayar pajak kendaraan bermotor (PKB). Sebab, di dalam PKB tersebut ada item Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ) untuk mengcover manakala terjadi kecelakaan.

Sementara untuk angkutan laut dan udara, Anda hanya diwajibkan untuk membeli tiket di loket yang resmi. Sebab, di dalam tiket yang Anda beli sudah termasuk asuransi jika terjadi kecelakaan.

Namun ternyata, kita di NTT termasuk sangat rendah dalam pembayaran PKB. Hal itu disampaikan Kepala Jasa Raharja NTT, Muhammad Hidayat, S.H seperti diberitakan dalam Pos Kupang edisi 1 September 2022.

Menurut Hidayat, tingkat kepatuhan warga NTT terbilang rendah. Hal ini terlihat dari data yang dipaparkan saat Rapat Koordinasi (Rakor) Samsat Nasional Bali beberapa waktu lalu. Dalam rakor terungkap bahwa baru 25 persen warga NTT yang patuh membayar PKB. Artinya, masih ada 75 persen yang abai. “Yang 75 persen ke mana nih,” ujar Hidayat.

Jadi apa yang diberikan Jasa Raharja tentu akan kembali diberikan kepada masyarakat dalam bentuk bantuan-bantuan ketika terjadi kecelakaan lalulintas baik di darat, laut maupun udara. Artinya, semakin disiplin kita membayar PKB maka akan semakin banyak orang yang kita bantu.

Oleh karena itu, melakukan pembayaran PKB setiap tahun dan registrasi kendaraan setiap 5 tahun adalah juga sebagai bentuk kepedulian sebagai warga Negara dalam membayar pajak tetapi ada hal lain yang tidak dirasakan yaitu Anda turun meringankan beban dari sesama yang mengalami kecelakaan.

Saat ini Pemerintah Provinsi NTT gencar melaksanakan tax amnesty yaitu membebaskan denda untuk yang terlambat membayar PKB. Mari kita gunakan kesempatan ini untuk mendaftar ulang kendaraan. Dengan demikian, kita akan nyaman mengendarai kendaraan dan kita akan menjadi warga Negara yang patuh dan taat membayar pajak. Tetapi lebih dari itu, dengan membayar PKB artinya kita sudah membantu banyak korban kecelakaan dan ikut membantu sosialiasasi tertib berlalulintas di NTT. (kris wangge)

Tinggalkan Balasan