SPIRITNTT.COM, JAKARTA – Sudah dua minggu pilot Susi Air Philip Mehrtens menjadi sandera oleh pihak yang menamakan dirinya Organisasi Papua Merdeka (OPM).
Mehrtens disandera OPM sejak 7 Februari lalu usai mendarat di Nduga, Papua. Setelah mendarat dengan selamat, segerombolan anggota OMP menyerbu dan membakar pesawat Susi Air tersebut.
Para anggota OPM yang bersenjata laras panjang tersebut menyandera Mahrtens dan menyuruh lima penumpang pergi ke Nduga.
Pemerintah Indonesia mengonfirmasi bahwa Philip disandera OPM beberapa hari kemudian. Hingga saat ini aparat TNI dan Polri terus melakukan pengejaran terhadap anggota OPM yang menyandera Mahrens.
Menanggapi aksi penyanderaan tersebut, Pemimpin Organisasi Kemerdekaan Papua Barat dan Ketua Persatuan Gerakan Pembebasan Papua Barat (ULMWP) Benny Wenda meminta OPM membebaskan pilot Susi Air, Phillip Mehrtens, warga Selandia Baru.
Kepada Radio New Zealand, Benny menegaskan, pihaknya tak memaafkan tindakan penyanderaan itu dan meminta OPM membebaskan Mehrtens secara damai.
Lebih lanjut, dalam wawancara yang dikutip CNN Indonesia itu Benny menyampaikan simpati untuk warga Selandia Baru dan keluarga Mehrtens atas insiden itu.
Ia menilai kejadian tersebut salah satu dampak lantaran Indonesia menolak kunjungan Komisaris Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengunjungi Papua.
Pada 2018, Presiden Joko Widodo mengundang langsung Komisioner HAM PBB untuk berkunjung ke Papua. Namun, hingga kini tidak ada kejelasan dari pemerintah terkait progres dari rencana lawatan itu.
“Jadi yang terjadi saat ini adalah peringatan kepada Indonesia untuk mengizinkan Komisaris Tinggi PBB untuk HAM berkunjung, yang mereka abaikan selama bertahun-tahun,” ujar Benny kepada Radio New Zealand, Selasa (21/2).
Ia kemudian berujar, “Kami tak bermusuhan [dengan Selandia Baru]. [Hubungan] kami sangat baik.”
Benny lalu mengatakan Selandia Baru merupakan pendukung kuat Papua Barat. Ia juga mengungkapkan Indonesia harus mempertimbangkan tuntutan OPM. (spiritntt.com)




